Kamis, 19 Maret 2015

Dayah Suro dan Oboh; Awal Gerakan Intelektual Islam di Aceh


Siapa yang tak kenal dengan Syekh Abdurrauf al-Singkili. Beliau adalah intelektual Islam Aceh. Sosok ulama yang memiliki talenta tinggi. Pokok-pokok pikirannya sangat bernas, acap dijadikan pedoman dan rujukan dalam pemerintahan kerajaan Aceh Darussalam. Sehingga, ketika Syekh Abdurrauf menjadi Mufti Malikul Adil di kerajaan Aceh Darussalam,  kerajaan ini tergolong lima kerajaan Islam terbesar di dunia.

Syekh Abdurrauf al-Singkil, telah mengarang lebih kurang 22 buah kitab. Kitab-kitab tersebut,  memuat persoalan tasawuf, hukum, tauhid, dan lain-lain. Karena ketinggian ilmu Syekh Abdurrauf  ini, membuat beliau sangat disegani dan  tersohor sampai ke manca negara.
Syekh Abdurrauf al-Singkili, menjadi ulama dan intelektual hebat, mumpuni, dan punya talenta, diawali dan diproses dari pendidikan dan tradisi intelektual  di Dayah Suro dan Oboh, kampong halamannya, Aceh Singkil.

Pendirian Dayah Suro dan Oboh
Menurut beberapa referensi, tahun  997-1011 H=1589-1604 M,  duo bersaudara Ali Fansuri, orangtua Syekh Abdurrauf dan adiknya Hamzah Fansuri, paman Syekh Abdurrauf, telah mendirikan Dayah (pesantern) di Singkil tepatnya di Suro, Simpang Kanan dan Oboh, Simpang Kiri.
Di dua dayah inilah proses pendidikan dan intelektual Syekh Abdurrauf al-Singkili diawali. Sebab, menurut catatan Drakard, J, An Indian Acean Port: Sourcer for the Earlier History of Barus, pertama kali Syekh Abdurrauf, belajar di Dayah Suro dan Oboh ini. Karena dua dayah ini, telah menjadi pusat kajian, pendidikan atau pembelajaran Islam di Aceh.

Di dua dayah ini, Syekh Abdurrauf kecil dan santri-santri lainnya  belajar membaca menulis, mengaji al-Quranul karim, mempelajari kitab-kitab kuning seperti nahu, saraf, mantik, tafsir, hadis, fikih dan ilmu kalam plus berbagai ilmu keislaman lainnya. Dayah ini, juga  kiprahnya sangat besar dan penting dalam melakukan islamisasi dan transformasi sosial di Aceh dan pantai Barat Sumatera.
Saat itu, sistem pengajian yang dikembangkan didayah ini, berorientasi pada usaha pengembangan dan pemantapan aqidah para santri. Mereka digembleng supaya mengenal Allah serta mengetahui fungsi dan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi.
Menurut catatan Tome Pires, seorang pencatat Portugis, sebelum dua dayah ini berdiri.

Masyarakat pesisir pantai Barat Sumatera, pedalaman Sumatera dan Aceh,  banyak terdapat aliran kepercayaan yang   dipengaruhi oleh aliran animisme dan dinamisme. Masyarakat menyembah, mengeramatkan, dan mengagung-agungkan kuburan, pohon besar dan lain-lain. Tradisi pemujaan terhadap kekuatan gaib, seperti pelepasan sesajen (upa-upah) di tempat-tempat tertentu, telah menjadi  ritual masyarakat.
Bahkan disinyalir, ketika  rakyat Singkil belum banyak menganut Islam, ada berkembang perilaku budaya negatif di masyarakat. Seperti, ketika mau mengambil getah kapur barus, terlebih dahulu, harus dilakukan prosesi persembahan manusia kepada roh halus sebagai tumbal. Tidak itu saja, ilmu sihir dan santet pun berkembang dengan pesat. Bahkan, ada manusia yang makan manusia (kanibalisme).

Penyimpangan perilaku, aqidah dan keimanan seperti itulah yang diubah dan  diperbaruhi oleh Ali Fansuri dan Hamzah Fansuri.  Master atau maha guru dari Syekh Abdurrauf inilah yang mengajar bagaimana umat Islam berhubungan dengan khaliqnya tanpa ada perantara, berhubungan dengan sesama manusia,  hewan, dan makhluk Allah lainnya.
Sisi lain, dayah Suro dan Oboh, ketika itu,  bukan saja berfungsi sebagai tempat pendidikan.  Tetapi juga, sebagai benteng Islam, pusat penyebaran,  media komunikasi dan informasi Islam. Melalui Dayah ini, Islam menyebar ke daerah-daerah Barus, Sorkam, Sibolga, Aceh hingga ke Minangkabau.
Dayah ini, telah banyak berperan dalam melahirkan tokoh-tokoh ulama, para da’i, pejuang dan pemimpin masyarakat. Selanjutnya mereka-mereka inilah yang memimpin Aceh hingga mencapai kemajuan dan kesejahteraan.


Intelektual Ulilalbab

Dayah Suro dan Oboh, telah berhasil pula meletakkan dan membina kader-kader atau generasi  Islam yang ulil Albab di Aceh. Yaitu, generasi yang  bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu dan mendalami ilmunya. Kemudian berfikir sekaligus berzikir. Mau mengembangkan nalar kritis, memisahkan yang hak dengan yang batil. Mereka mau dan mampu menyampaikan ilmu dan menjalin hubungan kemanusian yang baik dengan sesama. Tentunya mereka menjadi insan kamil yang selalu bertakwa kepada Allah dengan iman dan ilmunya.

Sosok ulilalbab itu terdapat pada pendiri dua dayah ini, yaitu Ali Fansuri, ayah dan guru dari Syekh Abdurrauf dan  pamannya Syekh Hamzah Fansuri, kemudian Syekh Abdurrauf. Dan beberapa santri lain seperti Burhanuddin Ulakan di Sumatera Barat dan Abdul Muhyi, Pamijahan, Jawa Barat dan murid-murid Syekh Abdurrauf lainnya.
Karena dalam sosok mereka terintegrasi kekuatan iman, ilmu, dan amal yang bersifat profetik sekaligus transformasional sehingga mereka mampu tampil pembawa misi Islam  di Kerajaan Aceh Darussalam, Nusantara, dan dunia internasional.


Awal Tradisi Intelektual
Berdirinya dayah Suro dan Oboh. Kemudian kiprahnya dalam melakukan proses transformasi sosial keislaman di Aceh ditambah dengan guru dan alumni dayah ini, seperti Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf al-Singkili di Aceh, Burhanuddin Ulakan di Sumatera Barat dan Abdul Muhyi di Jawa Barat, menjadi ulama besar dan intelektual yang ulilalbab, merupakan bukti otentik, bahwa sekitar tahun 1589-1604 M, pendidikan  telah berkembang pesat dan gerakan tradisi intelektual telah  muncul di Aceh terutama di Singkil. Dan bisa dikatakan, Dayah Suro dan Oboh adalah pionir, titik  atau simbol awal pendidikan ala dayah dan gerakan tradisi intelektual di Aceh.

Betapa tidak, kalau sejarahwan mengatakan bahwa di Aceh Besar, tepatnya di kaki bukit Gunung Seulawah, telah berdiri dayah Tanoh Abe, dayah Kuta Karang, (Abdullah dan al-Fairusy, 1980:i). Dan di Pidie, Kampung Tiro, telah ada dayah Tiro (Hasjmy, 1975: 9-10) yang disebut-sebut sebagai awal pendidikan dayah dan gerakan intelektual di Aceh, tidaklah tepat dan ternafikan (tersanggah).
Sebab, ketiga dayah ini berdiri pada abad ke-17 atau tahun 1607-1636, semasa Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Sementara Dayah Suro dan Oboh, telah berdiri semasa Aceh Darussalam diperintah  Sultan Alaidin Riayat Syah Mukamil, sekitar 997-1011 H=1589-1604 M.

Dengan demikian Dayah Suro dan Oboh, jauh sebelum itu, telah menjadi pusat pendidikan, kajian atau gerakan pembelajaran intelektual Islam serta telah memberikan kontribusi dalam perkembangan pengajaran Islam di Aceh.
Namun sayang, perkembangan pendidikan dan gerakan tradisi inteletual di Singkil telah lama meredup. Nyaris, tidak ada lagi intelektual Singkil yang berkaliber dan  diperhitungkan. Orang cerdas dan sarjana  memang telah banyak, Tetapi cendikiawaan yang ulilalbab, belum pernah muncul.
Tradisi intelektual yang telah disemai dayah Suro dan Oboh—untuk mendidik cendikiawan yang ulil albab, “raib” begitu saja. Nah!

Sadri Ondang Jaya, S.Pd

Pendidik di Singkil 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar