Sabtu, 14 April 2018

Menyingkap Misteri Makam Syekh Hamzah Fansuri


Oleh : Sadri Ondang Jaya


Dimanakah terletak makam Syekh Hamzah Fansuri? Di Ujung Pancukah? Di Ma’ala? Di Langkawi atau di Oboh? Mana yang benar? Entahlah! Jasad Syekh Hamzah Fansuri diyakini satu. Makamnya kata orang, tersebar di mana-mana.

Sampai hari ini, berbagai kalangan, masih berdebat tentang keberadaan pusara Syekh Hamzah Fansuri itu. Ada yang mengatakan, makam Hamzah Fansuri berada di Ujung Pancu, Peukan Bada, Aceh Besar. 

Ada pula yang menyebut, di pemakaman Ma’ala, Kota Mekah. Versi lain mengatakan,  di Langkawi, Malaysia. Kebanyakan sejarawan mengatakan, makam Hamzah Fansuri ada di Oboh, Runding, Kota Subulussalam.

Sebenarnya letak makam itu, bukanlah persoalan yang mengherankan. Sebab seiring dengan itu, kisah hidup dan karir keulamaan Syekh Hamzah Fansuri pun, sampai hari ini, masih berliku dan belum tersingkap. Wajar, jika keberadaan makamnya  pun tak kalah misterius, fenomenal, dan kontraversial.

Mungkin ini disebabkan, Syekh Hamzah Fansuri menganut aliran Tarekat Wahdatul Wujud. Sebuah aliran tarekat yang susah dimengerti dan dipahami kalangan awam. Sehingga keberadaan pusaranya terbawa rendong “susah dimegerti dan dipahami” pula.

Apalagi kalangan sufi menganggap, Syekh Hamzah Fansuri, adalah waliyullah (dekat dengan Allah) yang tentu saja memiliki berbagai karamah.

Menurut Yusuf bin Ismail An-Nabhani dalam kitabnya Jaamiu Karaamatil Aulia. Apabila seseorang dekat pada Allah disebabkan ketaatan dan keikhlasannya, Allah pun dekat kepadanya dengan melimpahkan rahmat, kebajikan, dan karuni-Nya.

Jika ditelisik dari literatur sejarah, sekarang ini ada empat lokasi makam Syekh Hamzah Fansuri. Keempat lokasi tersebut, masing-masing memiliki bukti dan alasan kuat.

Ujung Pancu
Dalam sejarah ada menyebutkan, makam Syekh Hamzah Fansuri terdapat di Ujung Pancu, Gampong Lampageu, Peukan Bada, Aceh Besar.

Ketika saya berkunjung dan menelusur ke Ujung Pancu, warga di sana menuturkan jasad yang bersemayam di Ujung Pancu, adalah makam Tengku Gle Ujung.

“Tengku Gle Ujung, merupakan sosok ulama yang disebut-sebut bergelar Tengku Tujoh Blah (Tengku 17). Tengku Tujoh Blah, ya Syekh Hamzah Fansuri,” ungkap warga.

Makam ini terawat dengan baik yang panjangnya diperkirakan sekitar 17 hasta atau 9 -12 meter.
Tidak jauh dari makam, terdapat pula makam dua orang muridnya. Di dekat tiga makam itu, di lereng gunung, tengah-tengah persawahan terdapat sebuah kubah masjid yang hanyut diterpa air tatkala peristiwa gempa tsunami melanda Aceh, 26 Desember 2004 lalu.

Konon, Syekh Hamzah Fansuri alias Tengku Tujoh Blah (Tengku 17) yang jasadnya bersemayam di Ujung Pancu dihukum pancung di Desa Deah Geulumpang Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

Ada juga referensi yang menyebut, ulama itu dipenggal  dan kitabnya dibakar di depan halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Konon abu-arang kitab Syekh Hamzah Fansuri itu, ketika dibuang ke Krueng Aceh, di depan Masjid Raya Baiturrahman, aliran air sungai itu terhenti. Begitu gambaran, banyaknya jumlah kitab yang dibakar bersama tubuh Syekh Hamzah Fansuri.

Setelah meninggal, jasad Syekh Hamzah Fansuri dibawa oleh murid-muridnya menyusuri pantai. Setiba di Ujung Pancu, jasad Hamzah Fansuri diturunkan. Lalu, ditunaikan fardhu kipayahnya. Setelah itu, ia pun dimakamkan di sana.

Peristiwa ini terjadi, di masa Sultan Iskandar Tsani berkuasa (1636-1641). Ketika itu, Syekh Nuruddin Ar-Raniry memfatwakan bahwa ajaran wujudiah yang dikembang Syekh Hamzah Fansuri, termasuk ajaran dan aliran sesat dan menyesatkan.

Karena itu, ia mempengaruhi Sultan Iskandar Tsani, supaya memberikan hukuman pancung pada Syekh Hamzah Fansuri dan beberapa orang pengikut serta membakar kitab-kitab yang ditulisnya. Eksekusi itu pun dilaksanakan oleh algojo kerajaan.

Pendapat ini dibantah oleh, seorang peneliti muda, Hilmy Bakar Almascaty dalam tulisannya Misteri Syekh Hamzah Fansuri, Serambi edisi Minggu, 3 Maret 2013. 

Menurut Hilmy Bakar Almascaty yang juga Presiden Al-Hilal Internasional Grouf:  Yang dibunuh di depan Halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, bukanlah Syekh Hamzah Fansuri.

Melainkan, Syekh Jamaluddin atau menurut Takesi namanya Syekh Maldin. Ia seorang murid sekaligus pengganti Syekh Syamsuddin As-Sumaterani sebagai Qadhi Malik al-Adhil sejak tahun 1630 yang berpaham wujudiah.

Alasan ini diperkuat, adanya perbedaan tahun saat terjadinya peristiwa dengan tahun eksistensi, kisah hidup dan kiprah Hamzah Fansuri di belantara keilmuan Nusantara. Syekh Hamzah Fansuri diperkirakan hidup di seputar abad ke-15.

Apalagi direlevansikan dengan tahun wafatnya Syekh Hamzah Fansuri yaitu tahun 1527 M. Ini berarti, Hamzah Fansuri bukan hidup pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Tsani atau masa Syekh Ar-Raniry menjabat Qadhi Malik al-Adhil di Kerajaan Aceh Darussalam (1637-1644 M).

“Kurun waktu perbedaan masa hidup antara Syekh Hamzah Fansuri dengan Syekh Ar-Raniry lebih seratus tahun. Bagaimana mungkin algojo Ar-Raniry dapat mengeksekusi jasad yang telah terbaring tenang ratusan tahun,” tegas Hilmy Bakar Almascaty.

Di Ma’ala Mekah
Di Mekah, banyak terdapat  komplek pemakaman umum. Salah satu di antaranya yang terkenal dan istimewa, adalah komplek pemakaman Ma’ala. Dikatakan istimewa, karena di sinilah jasad isteri Rasulullah SAW, Siti Khadijah dimakamkan.

Ma’ala ini, terletak menghadap kiblat di sebelah Timur Masjidil Haram dan jaraknya dari Masjidil Haram, tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh berjalan kaki selama 15 minit.

Saat musim haji, banyak jamaah yang menyempatkan diri berziarah ke Ma’ala selama 30-60 minit. Kebanyakan berziarah adalah kaum ibu.

Selain menjadi lokasi makam isteri Rasulullah, Siti Khadijah, sejumlah ulama terkenal di Mekah juga dimakamkan di komplek ini. Konon dulu, banyak jamaah haji dari Indonesia dikuburkan di sini. Sebelum pemerintahan Arab Saudi membangun komplek pemakaman umum yang baru.

Salah satu ulama Indonesia yang jasadnya terbujur di pemakaman Ma’ala ini, adalah Syekh Hamzah Fansuri. Seorang ulama sufi yang berasal dari Aceh Singkil. 

Keberadaan makam Hamzah Fansuri di Ma’ala ini, di jelaskan  Hilmy Bakar Almascaty dalam tulisanya Misteri Syekh Hamzah Fansuri, Serambi edisi Minggu, 3 Maret 2013.

Hilmy mengungkapkan, ia lebih cenderung makam Syekh Hamzah Fansuri yang wafat pada tahun 1527 bukan di Ujung Pancu, Peukan Bada, Aceh Besar. Syekh Hamzah Fansuri, menurutnya dimakamkan di komplek pemakaman Ma’ala, Mekah, Arab Saudi.

Argumen Hilmy ini, diperkuat dengan tesis Claude Guillot dan Ludvik Kalus yang menyebutkan, bahwa Syekh Hamzah Fansuri wafat pada tahun 1527 M dan dimakamkan di perkuburan Ma’ala Mekah.

Di Langkawi
Di Malaysia, terdapat sebuah kepulauan yang diberinama Langkawi. Ia termasuk dalam  distrik negara bagian Keudah Darul Aman. Kepulauan Langkawi, memiliki panorama alam  teramat indah dan banyak misteri, mitos, dan legenda masa silam di sana.

Salah satu legendanya, adalah makam Syekh Hamzah Fansuri. Hal ini pernah diakui mantan Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, saat berkunjung ke makam Syekh Hamzah Fansuri di Kampung Oboh, Runding, Kota Subulussalam.

Ia tidak menyangka kalau makam Syekh Hamzah Fansuri itu terdapat di Indonesia apalagi di Aceh  dalam hal ini Subulussalam.

“Saya tidak tahu kalau makam Syekh Hamzah Fansuri juga ada di sini. Soalnya waktu ke Langkawi, Malaysia, di sana juga ada,” ujar Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf.

Apa yang dikatakan Muzakir Manaf ini, terang bagi kita, bahwa makam Syekh Hamzah Fansuri berada di Kepulauan Langkawi. Muzakir Manaf mengatakan demkian karena ia telah pernah berkunjung ke sana.

Di Oboh.
Dari berbagai pendapat,  keberadaan dan letak makam Syekh Hamzah Fansuri  yang patut dipercayai adalah yang berada di sebuah delta hulu Sungai Singkil yang bernama Desa Oboh, Simpang Kiri, Kota Subulussalam yang notabene kampung halamannya sendiri. Pada bangunan makam tertulis : Inilah makam Hamzah Fansuri Mursyid Syekh Abdurrauf.

Dari kisah sejarah yang berkembang, setelah Syekh Hamzah Fansuri melanglang buana ke seantero Nusantara bahkan ke manca negara. Ia pulang ke kampungnya Singkil tepatnya Desa Oboh.

Di sana beliau membuka pengajian atau dayah. Kemudian setelah mengajar beberapa lama, tahun 1016 H/1607 M, Syekh Hamzah Fansuri pun berpulang kerahmatullah dan makam di Oboh bersama keluarga dan murid-muridnya.

Dalam sebuah kisah, tatkala Abuya Syekh Muda Waly melakukan perjalanan dakwah ke Singkil tahun 1953, ia sempat singgah di makam Syekh Hamzah Fansuri itu.

“Tempat yang kita singgahi tadi, adalah makam Syekh Hamzah Fansuri. Beliau sudah menanti dan mengajak saya untuk singgah sebentar, maka kita harus singgah. Setelah kita singgah lalu mendapat izin dan doa, baru kita boleh berangkat kembali,” tutur Muda Waly.

Pemerintah pun baik pusat, provinsi dan kota, lebih mengakui bahwa makam Syekh Hamzah Fansuri berada di Desa Oboh.

Ini terbukti dengan pemberian anugerah kebudayaan dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono kepada keluarga Hamzah Fansuri yang diterima Walikota Subulussalam, Merah Sakti, SH Selasa 13 Agustus 2013 yang lalu.

Hidup di Hati
Terlepas dari kontroversial dan keberadaan makam ini sampai sekarang masih dibalut misteri, yang jelas  Syekh Hamzah Fansuri telah begitu banyak memberikan sumbangan terhadap peradaban Islam di Nusantara. Meskipun paham sufinya ditentang beberapa kalangan.

Sekarang bahkan ke depan, diakui atau tidak. Hamzah Fansuri selalu hidup di hati generasi muda. Diyakini, namanya tidak akan lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan.

Kendati pun Syekh Hamzah Fansuri telah tiada, ia tetap ulama yang tersohor sejak dulu sampai sekarang. Bahkan karya-karyanya, baik puisi maupun yang lain, telah  menginspirasi generasi sesudahnya.

Hamzah Fansuri boleh wafat. Keberadaan makamnya boleh dimana saja dan mengundang berjuta misteri. Tapi nama dan karyanya tetap lekat dan hidup di hati anak negeri. []

Sadri Ondang Jaya, Peminat Sejarah dan Satra
Berdomisili di Aceh Singkil, Nagari Fansuri.




Menulis Antara Hobi dan Tuntutan Hidup


Oleh : Sadri Ondang Jaya


 Aku lahir 12 Agustus 1969 di sebuah desa pesisir pantai ceruk teluk Samudera Indonesia.

Tepatnya, Desa Gosong Telaga Selatan, Singkil Utara, Aceh Singkil.

Begitu aku nongol ke dunia. Orangtuaku  M. Naim dan Latifah sepakat menamaiku dengan Sadri Ondang Jaya.

Sadri, artinya dada atau hati. Ondang bijaksana. Sedangkan Jaya, bermakna sukses.  

Dengan nama itu, orangtuaku berobsesi sekaligus berdoa agar putra kedua dari lima bersaudaranya, memiliki hati yang lapang, bijaksana, dan sukses.

***

Sejak 1999 hingga sekarang, pekerjaan yang kutekuni,  adalah guru.

Sebelum jadi cikgu, saat mahasiswa di era 90-an, aku aktif di Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Darussalam- Banda Aceh.

Selain itu, aktif pula di Organisasi Remaja Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Sempat pula mengorganisir Forum Kajian Islamadina. Yaitu, komunitas tempat diskusi intelektual muda.

Yang membahas berbagai persoalan agama, transformasi sosial, dan budaya.

Pernah juga menjadi dedengkot  pada jamaah Nadhliyin sejak PMII, Gerakan Pemuda (GP) Anshor hingga Nadhatul Ulama (NU).

Tidak itu saja, pernah bergiat di bidang akademika, yakni menjadi dosen luar biasa di IAIN Ar-Raniry (sekarang UIN Ar-Raniry), Darussalam. Mengampuh mata kuliah Pancasila dan Bahasa Indonesia.

Pekerjaan lain yang aku ditekuni,  adalah sebagai “kuli tinta” di Koran Warta Unsyiah dan Tabloid Gema Baiturrahman.

***

Pasca mahasiswa atau setelah meraih sarjana, aku berkarir menjadi jurnalis profesional.

Dengan berlabuh pada Harian Umum terbitan lokal, Serambi Indonesia.

Menjelang lima tahun berkecimpung, aku pun berhenti.

Lalu, pasca keluar dari Serambi,  tahun 2005 Redaktur Hr. Rakyat Aceh (koran kelompok Jawa Pos), mengangkat aku menjadi koresponden di wilayah Aceh Singkil dan sekitarnya.

Tak lama jadi wartawan ‘nyambi’ di Harian Rakyat Aceh, aku pun berpaling. Serius berkutat di guru.

***

Orang menilaiku sosok tak  pernah diam, selalu bergerak dan berpikir.

Memang begitulah tekad dan obsesiku. Aku pingin jadi manusia dinamis, aktif, dan kreatif.

Sehari-hari, selain mengajar, mengurus organisasi, aku menyalurkan hobi, membaca dan menulis.

Karena hobi itulah, tulisan-tulisanku acap nongol di berbagai media, seperti Media Indonesia, Majalah Panji Masyarakat, Republika, Serambi Indonesia, dan berbagai media online.

Tulisan yang kuracik beragam. Ada cerpen, puisi, opini, dan esay.

Tulisan-tulisan itu, ada yang sudah tertuang dalam buku dan telah diterbitkan secara nasional oleh FAM Indonesia, Malang, Jawa Timur.

Seperti, buku antologi kisah inspiratif, Cinta di Ujung Penah dan Mimpi yang Sempurna.

Ada juga buku Singkil Dalam Konstelasi Sejarah Aceh dan kumpulan cerpen yang bertitel Memoar Siti Ambia.

***

Kegemaran aku menulis, diawali semasa di bangku SMP. Terutama menulis surat yang dikirim pada teman-teman di luar daerah.

Kecantolnya aku ke dunia tulis menulis itu, karena di samping Pesantren Syekh Abdurrauf Singkil, tempat aku mondok, tinggal seorang guru. Pak Darul Qudni CH namanya.

Pak Darul Qudni putra Tapaktuan itu, termasuk guru yang  rajin membaca dan menulis. Tulisanya acap terbit di massmedia.

Karena hobiku  dengan Pak Darul Qutni sama, membuat aku “tergila-gila”  belajar dengannya.

Ia sosok guru idola. Karena itu, aku memintanya menjadi guru perivat dalam tulis menulis.

Pak guru itulah yang mengajar dan memotivasi aku dalam menulis.

 Seminggu sekali, kalau tidak ada kegiatan,
aku bertandang ke rumahnya untuk numpang baca koran. 

Sehabis membaca, apalagi kalau tulisan Pak Darul Qudni dimuat, aku  terlibat diskusi panjang membahas tulisannya.

Isi tulisan, bahasa, kalimat, dan  gaya penulisannya merupakan bahasan yang  mengasyikkan bagi kami.

Dari diskusi itu, aku memeroleh ilmu. Sehingga bisa dikatakan, Pak Darul Qudni yang meletakkan dasar-dasar kepercayaan diri dan membimbingku menjadi pengarang

Ia mengajariku dengan sabar, serius, antusias, dan suka rela, tanpa bayar alias gratisan.

Sehabis belajar, Pak Darul Qudni selalu  menyisipkan pesan yang menyemangati supaya aku mau dan terus menulis.

“Yang penting untuk Anda lakukan: Menulis dan menulis, kemudian menulis dan menulis lagi, begitu nasihat Pak Darul Qudni saya.

Menulis itu tambah beliau, sangat bermanfaat. Salah satu manfaatnya, kita akan terbebas dari tekanan hidup dan pikiran yang galau.

Nasihat dan motivasi yang disampaikan, semulanya tak aku tanggapi dengan serius. Aku hanya tersenyum saja.

Setelah kurenung-renungkan. Rupanya, nasihat dan motivasi itu semacam dorongan gaib atau spirit bagiku.

Karena itu, nyaris setiap malam, sebelum tidur, aku “menggoreskan isi hati”  pada lembaran-lembaran  kertas putih.

Jika belum mengena di hati, tulisannya tak kunjung jadi, lembar-lembar kertas tadi, aku tepikan begitu saja. 

Saat lain, tulisan tadi aku pelajari kembali. Kemudian  kutulis hingga tangan dan kepala terasa letih.

Setiap
aku belajar menulis, nasihat S.I. Hayakawa, tergiang-ngiang di telinga: “Belajar menulis adalah belajar berpikir. Anda tidak akan mengetahui apa pun dengan jelas, kecuali Anda dapat mengungkapkannya secara tertulis.”

Dari beberapa tulisan yang aku anyam. Lahirlah salah satu  cerita pendek  pertama yang berjudul “Pendirian yang Goyah”.

Naskah cerpen itu  pun  aku tunjukkan pada Pak Darul Qudni. Lalu, kami pun terlibat intens “membedah”  isinya.

Setelah dibedah,  Pak Darul Qudni mengedit dengan memberikan komentar-komentar di sana-sini. Kemudian,  menyuruh aku mengetik ulang. 

Dengan mesin ketik Merk Royal pinjaman dari sekolah, aku mengetik naskah tadi dengan jari jemari yang masih tertatih-tatih. Menggunakan “sebelas jari”.

Setelah rampung, lantas Pak Darul Qudni, meminta naskah tadi untuk dikirimnya ke redaksi koran.
 
Beberapa pekan lamanya, aku mendapat informasi. Cerpen yang kukirim tempo hari telah dimuat di koran Mingguan “Demi Masa” terbitan Medan, Sumatera Utara.

Cerpen yang berjudul Pendirian yang Goyah itulah tulisanku pertama terbit di media massa.

Ketika itu, hatiku senang alang kepalang dan bangga tak terkira.

Saking senangnya, cerpen tersebut, aku baca berulang-ulang.

Dengan semangat membara dan penuh kegirangan, cerpen tadi aku perlihatkan pula pada teman-teman.

Ketika itu, teman-teman berkomentar, Insya Allah, kamu Sadri bakal menjadi penulis.

Aku hanya senyum-senyum saja mendengar komentar itu sembari hati mengucapkan, aamiin.

Dengan keluarnya
cerpen pertama itu, aku semakin aktif  menulis. Aku membaca dan terus membaca. Menulis dan menulis. Karena kedua itu, satu rangkaian yang tak bisa dipisahkan.

Membaca buku-buku sastra, sejarah dan buku apa saja milik pustaka sekolah, menjadi langgananku.

Setelah membaca, kulanjutkan menulis. Sehingga, beberapa judul  cerpen dan puisi mulai lahir dari tangan dinginku. Kemudian terbit menghiasi mass media.

Cerpen dan puisi yang telah diterbitkan itu, saya kliping dan dokumenkan dengan rapi.

***

Tamat SMP dan Madrasyah di Pesantren Syekh Abdurrauf Singkil, aku melanjutkan ke sekolah guru (SPG) di Tapaktuan, Aceh Selatan.

Karena ketika itu, di Singkil, belum ada sekolah pendidikan guru yang aku dambahkan.  Hal ini membuatku semakin jauh merantau. Tentu, semakin banyak pula biaya yang saya butuhkan.

Sementara kiriman uang dari kampung, nyaris tidak aku dapatkan. Sebab waktu itu, abang dan dua adikku,  harus pula melanjutkan pendidikan. Sedangkan ayahku telah saya berpulang kerahmatullah.

Untuk membiayai hidup, aku harus “membanting tulang” menjadi loper Koran.

Saat menjadi loper koran, saya makin banyak  membaca, mengamati, menelaah dan memelajari cara menulis berita, features, esai, dan puisi-puisi yang terdapat dalam koran.

Berita dan tulisan-tulisan dalam koran yang bagus-bagus dan penting, aku kliping. Tatkala tengah malam atau pada bakda subuh, saat sunyi menjelang dan hawa dingin memeluk bumi.

Di saat orang-orang nyenyak tidur di peraduan, aku luangkan waktu menumpahkan isi hati melalui tulisan.

Aku menulis dan terus menulis. Berlembar-lembar tulisan kubuat. Karena saya ingat pesan Dylan Thomas “Menulislah, karena hanya itu cara untuk membuat dunia tahu apa yang engkau pikirkan.”

Bermacam- ragam gendre tulisan aku garap. Tetapi lebih banyak kisah cinta, kekecewaan, dan cucuran air mata.
Terutama, tentang kesengsaraan hidup yang melankolis, picisan yang mencabik-cabik sukma.

Namun tulisan-tulisan itu, hanya beberapa buah saja yang dimuat di koran dan majalah. Selebihnya  sekadar “konsumsi” terbatas. Misalnya, untuk memenuhi tugas yang diberikan guru, dibacakan di depan kelas, dan dalam momen-momen tertentu.

***

Saat kuliah, aku semakin intensif, terinspirasi, termotivasi, dan percaya diri  menulis. Terutama mengedit dan  “mempermak” tulisan yang pernah kubuat dulu.

Kemudian tulisan-tulisan itu aku kirimkan ke redaksi koran, tabloid, dan majalah. Baik itu, terbitan lokal maupun ibu kota, Jakarta.

Dari sekian banyak tulisan yang kukirim, hanya beberapa buah saja yang dimuat lebih banyak ditolak. Kendatipun begitu, tidak membuat semangat  menulisku kendor alias patah arang.

***

Demi mewujudkan obsesiku menjadi penulis, berbagai pelatihan dan diskusi menulis kerap kuikuti.

Dalam sebuah pelatihan jurnalistik, aku terpilih menjadi peserta terbaik. Lalu, dimagangkan di Hr. Serambi Indonesia. Selesai magang aku diberi sertifikat.

Dengan secarak sertifikat, aku melamar ke berbagai penerbitan yang ada di Banda Aceh.

Alhamdulillah, aku pun diterima menjadi salah seorang reporter di koran kampus, Warta Unsyiah.

Melalui koran kampus itu, aku terus belajar menulis secara otodidak. Tidak lama kemudian, aku bergabung  di Tabloid Gema Baiturrahman.

Tabloid yang diterbitkan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, sebuah masjid yang tersohor keindahannya di Asia Tenggara.

Saat bekerja di Tabloid Gema Baiturrahman, aku pun semakin produktif menulis.

Karena di tempat aku bekerja, tersedia beberapa unit komputer.
Ini membuat aku lebih leluasa dan terdorong menuangkan pikiran, ide atau gagasan. Terutama gendre yang berisi “rintihan hati”.

Saat itu, aku menulis apa saja. Meliput berita, merangkum hasil wawancara, buat cerpen anak-anak, esai, opini, puisi, dan resensi buku.

Pokoknya, menulis  kujadikan “mesin uang” agar mendapatkan honor sebanyak-banyaknya.

Motto hidupku ketika itu:Jika ingin hidup ya menulis.”

Tulisan-tulisan yang  dikirim di samping banyak ditolak redaksi, ada juga yang dimuat.

Jika tulisan dimuat, waduh! Senangnya bukan kepalang. Karena akan mendapat honor –meskipun tak seberapa--dari tulisan-tulisan tersebut.

Dengan adanya honor: berarti hidupku tersambung beberapa hari ke depan.

Honor tulisan itulah kujadikan penambah biaya kuliah dan biaya hidup hingga aku meraih gelar sarjana.

***

Karena pernah beraktifitas di media massa dan punya sedikit “keahlian” menulis serta punya akses dengan kalangan wartawan, aku pernah mencecap kursi birokrat. Menjadi Kabag termuda di Sekdakab Aceh Singkil, yakni Kabag. Humas, Protokoler, dan Infokom.

Pernah juga mangkal sebagai kepala bidang di Dinas Kependudukan dan catatan Sipil, Aceh Singkil.

Karena kurang “serasi” menjadi birokrat apalagi yang tidak sesuai dengan latar belakang ilmu, aku memilih back to basic,  ke habitat guru.

Sebagai seorang guru profesional,
aku semakin menyadari bahwa menulis  sangatlah membantu  dalam pengembangan karir.

Apalagi untuk menambah kridit poin dalam kenaikan pangkat.

Aturan sekarang, jika guru mau naik pangkat, harus membuat karya ilmiah. 

Karena itu, setiap ada kesampatan aku terus menulis. Tulisan itu, ada yang saya kirim ke media massa umum dan juga  ke media yang terbitan terbatas.

 ***

 
Aku menyadari, seusia sekarang, menjelang 50 tahun, aku hanya bisa meracik beberapa tulisan saja.

Berbagai dalih selalu menghantui dalam peyelesaiannya. Referensi yang sangat minimlah, tidak mood, waktu terbatas karena sibuk mengajar, dan bising serta beribu alasan lainnya. 

Sehingga merampungkan satu tulisan saja, aku acap mengerenyut dahi, ngos-ngosan, dan mengeluarkan energi ekstra.

Bahkan, terkadang membutuhkan  waktu yang relatif  lama.

Kendati begitu, aku terus menulis. Setiap hari. Menulis apa saja.  Walau hanya beberapa kalimat dan alinia.

Menulis, tak pernah  kutinggalkan. Tentu saja termasuk, menulis materi pelajaran di papan tulis.

Semua itu, sebagai wujud pengabdianku pada bangsa dan negara serta tuntutan profesi keguruan.

Aku terus menulis, sebelum menulis itu dilarang.[]