Rabu, 22 Februari 2017

Kisah Ulama Syekh Aulia diTampat dan Asal-Usul Nama Gosong Telaga

Di Kemukiman Gosong Telaga, baru-baru ini, telah dibangun satu unit jembatan berkonstruksi kayu.

Oleh pemuda Gosong Telaga Selatan, jembatan tersebut dicat berwarna-warni sehingga menyerupai pelangi.
Sejak dicat, setiap hari, apalagi menjelang rembang petang, jembatan sepanjang 45 meter itu, selalu banyak dikunjungi para kaum abege (ABG).

Di sana mereka bershelfie ria sembari menjuntaikan dan mencecahkan kaki ke permukaan air yang mengalir tenang.

Di jembatan itu, seolah-olah Kaum abege tadi, menunggu lembayung senja jatuh kepangkuan.

***
Tidak berapa jauh dari jembatan-- yang oleh banyak orang dinamakan Jembatan Pelangi-- sekitar 800 meter ke arah pantai, terdapatlah satu makam tua berukuran panjang ( 9 meter).

Makam tersebut, menurut tuturan orang-orang tua, adalah makam ulama Syekh Maulana Abdul Qadir (ada juga yang menyebut Abdul Jalil), seorang ulama yang berasal dari Timur Tengah.

***
Konon, pada masa khalifah Dinasti Ummayah, Umar bin Abdul Aziz (717-720) sangat gigih mengembangkan ajaran Islam ke pelosok dunia tak terkecuali ke Nusantara.

Hal ini didorong pula dengan terbentuknya jaringan ulama Timur Tengah atau lingkaran Komunitas Jawi (ashab al-jawiyyin), membuat Islam terus dikembangkan dan diperkenalkan ke seluruh penjuru Nusantara.

Jajat Burhanuddin Dalam bukunya Ulama dan Kekuasaan halaman 30 mengatakan, pada abad ke-17 hubungan Kerajaan Aceh Darussalam dengan Timur Tengah sangatlah kuat.

Kuatnya hubungan ini terbukti dengan dibentuknya sebuah jaringan ulama atau Lingkaran Komunitas Jawi (ashab al-jawiyyin).

Dalam jaringan tersebut terdapat Syekh Nuruddin Ar-Raniri (wafat 1608), Syekh Abdurrauf al-Singkili (1615-1693) dan Syekh Yusuf al-Maqassari (1627-1699) yang ketika itu, mereka sedang menuntut ilmu di Mekkah (Azra 1992 dan 2004).

Dalam upaya memperkenalkan dan mengembangkan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia terutama ke Nusantara ini, tersebutlah kisah pengiriman 44 orang ulama dari Timur Tengah.

Ulama ini ingin berkunjung ke Kerajaan Aceh Darussalam. Ekspedisi 44 orang ulama ini berangkat ke Aceh menaiki perahu layar.

***
Belum sempat sampai ke pusat Kerajaan Aceh Darussalam, malang bagi mereka, di perairan Gosong Telaga, (sekarang termasuk Singkil Utara), perahu yang mereka tumpangi diterpa badai yang menggelegar dan dihempas ombak besar.

Perahu mereka oleng, tenggelam dan beberapa penumpangnya yang terdiri dari ulama wafat.
Jasad mereka terdampar di Pantai Gosong Telaga, termasuklah salah satu di antaranya, bernama Syekh Maulana Abdul Qadir ditampat (ada juga yang menyebut Syekh Abdul Jalil).

Syekh Abdul Qadir ini oleh rekan-rekannya sesama ulama di makamkan di Pantai Gosong Telaga. Sementara teman mereka yang jasadnya ditemukan di Pulau Panjang, arah Timur Gosong Telaga, dimakamkan di pulau tersebut.

Setelah ulama yang selamat melaksanakan fardhu qifayah terhadap Syekh Abdul Qadir dan rekan ulama yang meninggal lainnya, ulama yang selamat melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Aceh Darussalam guna mewujudkan misi mereka.

***
Adanya makam sekaligus nama dan kisah ulama yang wafat di Pantai Gosong Telaga ini, diperoleh masyarakat dari tuturan seorang musafir, belum diketahui siapa namanya, mendatangi Gosong Telaga sekitar tahun 1840, ketika Singkil itu telah berada di bawah kekuasaan Pemerintah Belanda.

Sesampai di Gosong Telaga, ia bercerita tentang adanya makam ulama di Pantai Gosong Telaga. Tuturan musafir tersebut, diucapkan ulang oleh salah seorang tokoh masyarakat Gosong Telaga, Tgk. Mustawi, kepada penulis (tahun 2000).

Ketika itu, kata Tgk. Mustawi, sang musafir menceritakan kepada masyarakat, bahwa di bibir Pantai Gosong Telaga terdapat sebuah makam ulama Syekh Maulana Abdul Qadir. Panjang kuburan itu sekitar sembilan meter.

Ulama ini berasal dari Negara Timur Tengah mau menuju pusat Kerajaan Aceh Darussalam. Karena perahu yang mereka tumpangi tenggelam diterpa badai dan dihantam ombak besar.

Beberapa orang dari ulama itu terdampar dan wafat di sana dan dimakamkan di Pantai Gosong Telaga.
Lebih lanjut Tgk. Mustawi menuturkan, setelah musafir tadi, menceritakan riwayat makam ulama, tokoh-tokoh masyarakat Gosong Telaga pergi membuktikan ucapan sang musafir.

Ternyata benar, di bibir Pantai Gosong Telaga terdapat sebuah pusara.

Tidak jauh dari pusara, terdapat sebatang pohon besar. Pada kulit pohon tersebut, terdapat ukiran tulisan berbahasa Arab-Turki. Tulisan ini, kemudian diteliti dan dibaca oleh Faqih Yahya, seorang ulama Gosong Telaga.

Setelah dibaca lantas diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Dari terjemahan tulisan itulah terbuka tabir, bahwa ulama yang dimakamkan di Pantai Gosong Telaga itu, adalah ulama yang berasal dari Timur Tengah.

Kedatanganya untuk suatu misi ke Kerajaan Aceh Darussalam. Lantas cerita itu, berkembang dari mulut ke mulut hingga sekarang.

Sejauhmana kebenaran kisah itu perlu diungkap melalui penelitian mendalam. Bagi masyarakat Gosong Telaga khususnya, makam ulama itu, fakta sejarah yang benar adanya.

Bukti sejarah itu pulalah yang berkaitan erat dengan kisah perkampungan Gosong Telaga. Karena nama Gosong Telaga diambil dan ditambalkan dari “kisah misteri” sang ulama yang wafat.

Ketika makam ditemukan, secara bersamaan masyarakat melihat sebuah sumur di depan makam. Melihat adanya sumur, pengunjung makam kaget dan berteriak.

"Di gosong, ada telaga. Di gosong, ada telaga". Maksudnya, di batu karang, ada sumur.

Rasa kaget dan ucapan di gosong ada telaga itu muncul secara spontan dan menyebutnya berulang-ulang.
Karena peristiwa ini dianggap sesuatu yang mustahil. Tidak mungkin di batu karang, dekat bibir pantai ada sumur. Airnya jernih dan tidak asin.

Keberadaan sumur ini, terus diinformasikan kepada publik sehingga sampai ke daerah-daerah lain. Sejak itulah, perkampungan ini mendapat julukan nama Gosong Telaga. Yang artinya, di batu karang ada sumur.

***
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karangan WJS. Poerwadarminta. Terminologi Gosong, bukanlah hangus (hitam legam) karena terbakar (seperti yang diterjemahkan di dalam bahasa Jawa).

Tetapi menurut isi kamus tersebut, gosong itu artinya batu karang yang telah menjadi daratan dan telah ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan. Sedangkan telaga, menurut kamus yang sama, berarti sumur.

Jadi, Gosong Telaga berarti sumur atau telaga yang ada dibatu karang. Ini fakta, sumur itu masih ada sampai sekarang. Airnya jernih dan tidak asin walaupun sumur itu berada di pinggir laut.

Memang, tidak berapa jauh dari makam Syekh Abdul Qadir, ada sebuah sumur atau telaga tua. Sumur atau telaga ini digali oleh para ulama rekan Abdul Qadir yang dimaksudkan agar airnya bisa digunakan untuk bersuci dan keperluan lainnya.

***
Dengan adanya penjelasan bahwa makam di Gosong Telaga itu adalah ulama yang berasal dari Timur Tengah. Kemudian pada makam itu, banyak pula terdapat keajaiban-keajaiban, maka masyarakat Gosong Telaga mengeramat makam ulama Syekh Abdul Qadir.

Karena itu, setiap Jumat, paling tidak sekali setahun ( saat Lebaran Idul Fitri) masyarakat berbondong-bondong datang ke pemakaman. Tujuan mereka ke pemakaman, ingin berziarah.

Ada yang mencari berkah dengan bertawassul, bermohon pada Allah SWT melalui perantara Syekh Abdul Qadir agar cepat memperoleh jodoh, memperoleh anak, bermohon agar menjadi orang kaya dan memperoleh jabatan “tinggi”.

Ada juga yang sekadar membaca Surat Yasin dan ayat-ayat tayyibah lainnya.

Ada juga yang cuma mandi-mandi di sumur atau telaga dengan niat supaya dihilangkan penyakit dari tubuh. Dan ada juga yang melepas nazar. Pokoknya, berbagai tingkah pengunjung. Entah keinginan itu terpenuhi, tak tahulah kita.

***
Yang jelas menurut Eickelman (seperti ditulis Mas’ud 1990 :44-45 ), ziarah kubur ini adalah gerakan spiritual yang bertujuan untuk memperbaruhi dan memperbaiki kesadaran dan pemahaman agama seseorang.

Bagi penziarah, kubur sudah dipandang sebagai sebuah proses pencarian berkah ulama, karena berkah ulama adalah obat penyembuh yang ampuh bagi berbagai “penyakit”.

***
Keajaiban lain, di tempat keramat itu tersedia nasi, minuman dan makanan lezat lainnya serta perkakas makan. Apabila ada musafir yang haus dan lapar bisa singgah dan “membunuh” rasa dahaga dan laparnya di sini.

Makanan yang tersedia itu tidak pernah kekurangan, apalagi habis. Siapa saja yang datang dan mau menikmati makanan selalu tersedia dan cukup.

Namun karena ada orang yang melanggar “pantangan” yaitu membuang makanan dan mengambil perlengkapan makan. Keajaiban tadi lenyap. Sekarang, tidak pernah ada lagi makanan dan minuman.
Tetapi yang jelas, orang tetap saja datang berbondong-bondong berziarah ke sana.

Sekarang, saat-saat tertentu, masyarakat sering melihat cahaya terang yang membumbung ke atas yang bersumber dari pemakaman.

Dan saat-saat lain masyarakat acap pula mendengar suara gemuruh atau dentuman dari tempat pemakaman. Kalau ada suara demikian menandakan Gosong Telaga akan mendapat rezeki laut.

Apabila ada keributan atau berjangkit penyakit menular, masyarakat mendatangi makam Syekh Abdul Qadir, kemudian di sana mereka membaca al-Quran khususnya Surat Yasin dan kalimat tayyibah lainnya serta bertawassul, masyarakat Gosong Telaga akan terhindar dari keributan dan penyakit menular itu.

Di pemakaman sekarang, juga dijaga oleh harimau dan buaya. Harimau berjalan pincang, karena kaki kanannya pendek dan kecil sebelah. Sementara buaya berekor puntung. Sewaktu-waktu kedua hewan predator ini, acap menampakkan diri pada manusia.

***
Secara kasat mata dan fakta yang ada, tanah di pemakaman atau di atas jasad ulama Timur Tengah ini, bukanlah tanah pasir biasa. Tetapi tanah pasir yang bercampur dengan serbuk batu karang yang bewarna ke kuning-kuningan seperti layaknya serbuk tanah gunung kapur.

Batu nisan makam pun bukan batu air dan bukan pula batu gunung atau batu yang berukir, melainkan batu karang yang sudah membentuk motif kupiah ala Timur Tengah yang terbentuk secara alamiah.

***
Kalau penziarah yang mengunjungi pusara Syekh Abdul Qadir, terlebih dulu memasuki kemukiman Gosong Telaga, tepat di Kampung Gosong Telaga Selatan. Lalu menaiki dan menempuh jembatan pelangi.

Lantas berjalan menyelusuri jalan setapak sepanjang 800 meter, sampailah ke lokasi makam. Kalau mau, bisa juga menaiki sepeda motor dengan jalan memutar dari pantai tempat wisata Pantai Cemarah Indah Gosong Telaga, jaraknya hanya sejauh enam kilometer.

Nah, mari bershelfie ria di Jembatan Pelangi seraya berziarah ke makam Syekh Aulia DiTampat. Bergegaslah![] Sadri Ondang Jaya.

Senin, 29 Februari 2016

TEKAD PAK MULEM Oleh : Sadri Ondang Jaya



 CERITA PENDEK
TEKAD PAK MULEM

Oleh : Sadri Ondang Jaya

Keluarga Pak Mulem, adalah salah satu keluarga miskin di kampung kami. Hidup dan kehidupan keluarga mereka sehari-hari, hanya ditumpang dari jerih Pak Mulem  sebagai penggalas ikan. Plus dibantu isterinya yang bekerja upahan. Seperti menyuci pakaian tetangga, membelah ikan, menumbuk tepung, dan pekerjaan lainnya.

Ikan yang digalas Pak Mulem, bukan dibelinya. Melainkan  diutang terlebih dahulu pada nelayan. Lantas ikan tadi, dijajakan kepada warga  secara door to door.  Berjalan kaki berkilo-kilo meter mengitari perkampungan yang satu ke perkampungan lainnya.

“Ikan, ikan…. Murah,” teriak Pak Mulem  sembari menenteng raga.
Kalau ikan dibeli warga, Pak Mulem tidak rugi. Sudah pasti ia mendapat uang, walau jumlahnya tidak seberapa. Karena uang itu harus dibagi.  Sebagian disetor kepada nelayan. Sebagian lainnya untuk Pak Mulem. Uang itu pun tidak bisa singgah lama di tangan Pak Mulem. Ia  segera menyetor pada isterinya, Zuleha. Kalau tidak, bakal pecah perang dunia ketiga.

Dari penghasilan yang tak seberapa, Pak Mulem, isteri, dan lima orang anaknya belum pernah kelaparan. Mereka selalu makan kenyang. Pakaian yang mereka kenakan pun selalu ada. Walau di sana-sini penuh ditambal dan sulam. Clournya  pun  telah menyebua. Pakaian itu, nyaris tak pernah berganti. Paling ditukar, saat lebaran idul fitri.

Kalau anak-anaknya menginginkan sesuatu, sebagaimana yang diinginkan dan telah diperoleh anak-anak sebaya mereka,  Pak Mulem dan isterinya tidak bisa memenuhinya. Karena terbatasnya uang mereka.

Pak Mulem dan isterinya selalu berdalih, “Nak, jumlah uang kita  terbatas.  Kita harus penuhi keperluan mendesak dan utama lebih dahulu. Bersabar ya,” ucap mereka.

Anak-anak Pak Mulem acap mencengang, mereguk air liur, dan mengurut dada saat melihat anak sebaya mereka berpesta, menikmati makanan enak, memakai pakaian baru yang  trend, dan bermain dengan asyiknya dengan mainan yang mutakhir.

Membuat hati lebih trenyuh, Zuleha, isteri Pak Mulem, tidak sekalipun pernah  mengenakan emas atau aksesoris sejenis, sebagaimana lazimnya kaum wanita.

Rumah yang mereka tempati, konstruksinya sangat bersahaja. Bahan dasar bangunannya terbuat dari kayu hasil  tarahan. Bukan  kayu pabrikan.

Manakala keluarga itu kedatangan tamu, mereka melayani   di ruang terbuka beralaskan tikar pandan. Kalau tamunya menginap, mereka tidurkan di tempat yang sama. Keluarga Pak Mulem, hanya menyodorkan beberapa buah bantal lusuh sekadar pengalang kepala.

Sebab mereka, tidak punya kamar tidur yang special. Mereka hanya punya satu bilik. Bilik itu pun disekat dengan tirai kain marikan dan diperuntukan sebagai kamar Pak Mulem dan isterinya. Di bilik itu, hanya ada satu peratai dan  satu rak pakaian yang pernisnya sudah kusam.

                                                                   ***
Kendati Pak Mulem seorang penggalas ikan. Namun ia memiliki pikiran, obsesi, dan tekad untuk mengubah nasib mereka melalui sekolah. Yang ketika itu, orang-orang di kampung kami, sangat pesimis melihat pentingnya sekolah.

Lompatan cara pandang Pak Mulem seperti ini muncul karena keluarga mereka selalu dikerubungi kemelaratan berpuluh-puluh tahun. Bahkan, sudah turun temurun.

Suatu hari, saat keluarga itu ngumpul-ngumpul di beranda rumah mereka, tekad Pak Mulem diungkapkannya kepada isteri dan anak-anaknya.

“Nasib kita, tidak boleh terus-terusan begini. Kita harus  mengubahnya. Paling tidak nasib kalian anak-anakku,” ucap Pak Mulem.

 Ungkapan Pak Mulem itu, langsung disahuti isterinya. “Pak kalau ingin mengubah nasib, tiada jalan lain, anak-anak harus sekolah. Dengan bersekolah  ilmu pengetahuan akan mereka dimiliki. Kalau ilmu pengetahuan telah ada, apa yang didambakan akan bersua. Ilmu pengetahuan adalah kunci pembuka pintu kesejahteraan dan kemuliaan.”

“Nah, itulah yang saya maksudkan,” tutur Pak Mulem.
“Anak-anakku, sekarang kalian sudah besar.  Kalian harus bangkit, bergerak mengerat mata rantai lingkaran setan kemiskinan. Kalau tidak kalian siapa lagi. Kalau tidak sekarang kapan lagi,” tambah Pak Mulem.

“Tapi, Ayah. Bagaimana cara mengerat lingkaran setan itu. Keluarga kita kan miskin?” sanggah anak tertua mereka.

Pak Mulem tersenyum. Setelah diam sejenak, Pak Mulem menjelaskan, “Caranya, seperti dikatakan Mak kalian tadi. Kalian harus sekolah.”

 “Tapi Yah, sekolah bukan pekerjaan mudah. Apalagi bagi keluarga kita,” timpal anak kedua Pak Mulem.

“Benar. Bagi kita susah untuk sekolah. Di kampung ini jenjang pendidikan hanya baru tingkat sekolah dasar. Pendidikan tingkat atas belum ada. Kalau ingin melanjutkan sekolah, harus merantau ke luar daerah. Merantau ini sangat memberatkan, memerlukan biaya. Orang-orang berpunya saja tak mau  menyekolah anaknya,  mereka takut rugi. Sementara, keluarga miskin,  takut  menderita.

Padahal, untuk belajar atau sekolah harus berkorban tenaga, pikiran dan biaya. Jika kita tidak tahan pada lelahnya belajar (sekolah), takut mengeluarkan tenaga dan biaya, maka kita akan merasai perihnya kebodohan. Nah, karena bodoh itulah penyebab kita terus miskin,” jelas Pak Mulem panjang lebar.

Kemudian Pak Mulem melanjutkan, “Kalau kalian mau merantau dengan tujuan sekolah, Ayah dan Makmu rela menjual sepetak tanah, satu-satunya milik kita yang ada di belakang rumah. Sebagai biaya awal kalian bersekolah. Tetapi, dalam melanjut pendidikan, kalian harus bertekad dan berkemauan yang tinggi. Tidak mengharapkan biaya semata-mata dari orangtua. Rela bekerja, hidup mandiri, dan menderita. Kalau ini siap kalian jalani, Bismillahirrahmanirrahim. bersekolahlah!”
                                               
                                                                   ***

 Sikap Pak Mulem yang pro dengan pendidikan, berbanding terbalik dengan sikap  kebanyakan warga. Bahkan, ada di antara warga yang belum  memahami arti penting pendidikan.

Hal ini, terekam dari pembicaraan mereka di warung-warung kopi. “Sekolah itu tidak perlu. Kalau sudah besar, ya bekerja. Membantu orangtua melaut menjadi nelayan, mencari nafkah. Lalu, kumpul uang dan berumah tangga.

Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, pandai membaca dan berhitung saja sudah memadai. Nenek moyang kita tidak ada yang sekolah tinggi. Tapi toh, mereka bisa hidup,” ucap  warga.
  
“Orangtua yang menyekolah anaknya, berarti mereka tolol dan sama dengan bunuh diri. Ia telah membelenggu diri untuk membiayai anaknya selama belasan tahun.

Kalau ada orangtua yang  mau berhajab-hajab menyekolahkan anaknya, termasuk sia-sia. Karena setelah tamat dari sekolah, anaknya itu belum tentu dapat pekerjaan hebat dan bisa hidup mentereng.

Berbilang contoh. Anak yang bersekolah, setelah tamat dan  pulang kampung, toh kerjanya menjadi nelayan juga,” timpal warga lainnya.

Lain lagi dengan pandangan Angku Haji, warga yang terpandang dan kaya di kampung kami, “Coba lihat anak Simansyah, anak Buyung Hitam, dan anak Simuslim, serta sarjana-sarjana yang datang ke kampung ini. Mereka telah bersekolah tinggi tetapi perilaku mereka lebih buruk dari orang yang tak bersekolah. Padahal dadanya telah dimasuki cahaya ilmu. Idealnya, dengan  ilmu  perilakunya lebih baik. 

Lihat, mereka yang bersekolah, tidak mampu memajukan kampung. Para kaum terpelajar itu hanya memperbanyak gaya. Mereka ibarat  berumah di menara gading. Kalau berkumpul di tengah-tengah warga, mereka membodoh-bodohi,” tutur Angku Haji yang telah tiga kali berangkat ke Mekkah dan tujuh orang anaknya, tidak satu pun yang bersekolah.

Pembiacara seperti ini, acap kali muncul di warung-warung kopi dan ruang publik lainnya di kampung kami. Warga telah punya persepsi dan image negatif tentang pendidikan dan orang yang bersekolah.

Mendengar ucapan yang tidak keruan dan perilaku warga yang demikian, Pak Mulem pernah marah  dan berontak.
 “Wah, itu kan terjadi karena anak yang bersekolah, tidak tekun menuntut ilmu. Ia asyik pulang kampung. Pingin makan sambam berdarah yang dibakar di atas bara sabut kelapa atau  di gelagah bolos.

 Ia tidak teringat hapalan pelajarannya, ia lebih teringat pada tepian tempat pemandian. Takut tepian itu diambil orang. Baginya, air sumur di rantau dirasanya pahit sementara air sumur di kampungnya manis. Ia ingin mencecap air sumur itu terus menerus.

Anehnya, ada orang tua yang kaya raya tidak mau menyekolahkan anaknya ke rantau. Karena ia takut kalau ia  meninggal nanti anaknya tidak dapat menyaksikannya saat ia menghela nyawa. Hanya melihat tanah terbalik kuburan orangtuanya saja.

Pandangan seperti bapak-bapak sampaikan itulah yang membuat anak kampung ini tidak mau bersekolah, merantau ke luar daerah. Kalau pun sekolah, ilmunya tidak pernah kesampaian.

Menuntut ilmu, harusnya fokus. Hati tidak boleh cewang. Ingat. Menuntut ilmu itu wajib. Berdosalah apabila  ada orang yang membiarkan kebodohan.  Kebodohan inilah yang membuat kampong tidak pernah maju, hidup tidak pernah bahagia, dan beragama tidak kafah.

Perilaku tak elok hanya dilakukan oleh segelintir orang yang berpendidikan. Toh masih banyak yang baik dan mau bahu membahu dengan masyarakat membangun kampung. Mereka terus memainkan  peran sebagai menara air,” tegas ayah.

Mendengar sanggahan Pak Mulem itu, beberapa masyarakat yang duduk di warung kopi, tidak bisa berkotek. Hati mereka membenarkan ujaran Pak Mulem.
           
                                                                                  ***
 Semangat Pak Mulem mengubah nasib melalui pendidikan telah tertanam di hati dan bergelora di dada keluarganya. Terutama anak-anak mereka. Sehingga setelah tamat SMP, anak sulung mereka, hanya minta doa restu saja pada orangtuanya saat melanjutkan sekolah guru ke luar daerah. Pak Mulem dan isterinya  menyetujui saja.

Saat melepaskan kepergian anaknya, Pak Mulem dan isterinya seperti melepaskan pejuang yang ingin bertempur di medan perang. Setelah bersalaman, peluk cium, dan  deraian air mata, isteri Pak Mulem menyisipkan bungkusan berisi uang dari penjualan sepetak tanah. Sementara, Pak Mulem memeluk anaknya dan berbisik:

“Bersungguh-sungguhlah meraih asa. Ingat, jangan tinggal shalat dan perintah Allah lainnya. Lalu sempurnakan dengan ikhtiar. Insya Allah, cita-citamu akan tercapai.”  

Mendengar  nasihat ayahnya, anak mereka terisyak, air matanya  mencurat.  Dalam hati semakin timbul tekad: bahwa orang miskin juga bisa  meraih sarjana, dan hidup bahagia.

Sementara itu, dari sorot mata tetangga yang turut mengantar, menyiratkan keraguan. Apakah anak Pak Mulem itu bisa hidup tanpa kiriman biaya? Dan pendidikanku tidak oleng dihempas ombak. Diterpa badai membahana. Dan tidak terganjal batu karang?

                                                                        ***

Sejak kepergian anak Pak Mulem sekolah ke luar daerah. Kicauan orang-orang di warung kopi tehadap keputusan Pak Mulem menyekolahkan anaknya terus menghangat. Menjadi trending topic.

“Huu, tagih menyekolahkan anak. Kerja hanya menggalas ikan. Anak di sekolahkan. Semangat bolehlah. Tapi sayang, tidak mengukur badan dengan bayang-bayang. Besar pasak dari pada tiang,” begitu ucapan warga mengolok-olokkan keluarga Pak Mulem.

Hooi! tidak bakalan ada orang miskin menjadi sarjana. Kalau ada, potong telunjuk saya,” timpal warga lainnya dengan sinis, getir, ironis, dan menghina.

Ucapan sinis, getir, dan hinaan yang tujuannya memojokkan keluarga Pak Mulem, tidaklah membuat cita-cita agung yang telah terukir di dada Pak Mulem dan keluarganya hilang. Cita-cita untuk mengubah nasib tetap bersemi  di hati. Ini harus  berkecambah, tumbuh, dan berwujud.

Setiap hari Pak Mulem dan isterinya terus bekerja membanting tulang. Meskipun mereka bekerja dan mengais rezeki dengan tertatih-tatih. Lelah dan penat tak dipedulikan. Mereka tidak pernah mengeluh, menyesali, apalagi memendam keputusasaan  menyekolahkan anak mereka. Pak Mulem dan keluarganya ikhlas memberi nafkah sekaligus spirit agar pendidikan anak mereka tidak patah di tengah jalan.

“Pendidikan mesti berlanjut, tidak boleh berhenti. Pendidikan sesuatu yang wajib. Allah Mahapemurah. Dia tidak mungkin menelantarkan umatnya. Dialah yang melimpahkan rezeki pada makhluk yang tiada putusnya. Siapa yang ingin berbahagia di dunia dengan ilmu. Ingin berbahagia di akhirat juga dengan ilmu. Ingin berbahagia kedua-keduanya juga dengan ilmu,” ucapan Pak Mulem mencuplik sepotong Hadis Nabi.

Alhamdulillah, berkat usaha dan atas kehendak Allah dari lima orang Anak Pak Mulem, empat di antaranya meraih sarjana. Satu orang hanya tamatan SMA. Namun, kesemua anak peumuge ikan keliling kampung itu menjadi pegawai negeri sipil.  Hidup mereka  pun drastis berubah menuju sejahtera.
                                                                       ***
Tekad dan kemauan Pak Mulem dan isterinya, menyekolahkan anaknya ke luar daerah, bagaikan mercusuar. Bercahaya. Terang-benderang. Menyinari ke seantero negeri. Pak Mulem dan keluarganya bak bintang petunjuk bagi nelayan dan pemberi harapan.

Cara pandang, energi positif, aura kecerian, tekad yang berbinar, dan daya hidup yang terpancar dari diri Pak Mulem dan keluarganya dalam menyekolahkan anak-anak mereka, secara diam-diam merasuk dalam hati warga. Mereka membenarkan, dan mulai meneladani. Karena yang dilakukan Pak Mulem dan keluarganya benar adanya. Tidak berubah nasib suatu kaum, kalau tidak kaum itu sendiri yang mengubahnya.[]




Kamis, 03 September 2015

Di Lapo Kopi; Dari Makan Bubur Ketan, Mehota Politik Hingga Pembangunan Karakter




Di Lapo Kopi;
Dari  Makan Bubur Ketan, Mehota Politik
 Hingga Pembangunan Karakter
Oleh : Sadri Ondang Jaya
Jangan pernah mencari buah kopi yang masih muda di Aceh Singkil. Sukar menemukannya. Bahkan, apabila buah kopi ini dipergunakan untuk obat pasien yang sedang sekarat pun: Ya ampun, untuk mendapatkannya luar biasa susah. Mengapa? Ini karena di tanah Aceh Singkil, jarang tumbuh tanaman kopi, seperti daerah tetangganya Sidikalang.
 Ada memang beberapa orang petani yang memaksakan diri menanam batang kopi. Pohon kopinya hidup. Namun pertumbuhan dan perkembangannya  tidak sempurna. Pohonnya tidak subur seperti layaknya tanaman kopi biasa. Aneh, jangankan buah kopi yang muncul, bunganya pun enggan nongol.
        Sebenarnya bukan batang kopi yang tidak mau tumbuh. Melainkan tanah titisan Syekh Abdurrauf ini yang tidak mau menerimanya. Dengan kata lain, tanah Aceh Singkil bukanlah habitat yang elok untuk tanaman kopi.

           Karena secara geografis dan ekologis, Aceh Singkil yang luasnya sekitar 2.187 km2, termasuk  daerah yang berdataran rendah, sedikit perbukitan dan berada di lekuk bibir pantai plus daerah kepulauan.

          Posisi Aceh Singkil yang demikian, membuat daerah ini berhawa panas. Suhu udaranya setiap hari mencapai 27-36 derajat Celsius. Suhu  yang demikian panas, tidak cocok ditumbuhi tanaman kopi. Apa lagi udara Aceh Singkil, banyak mengandung uap air asin yang selalu ditiup angin dari laut.

          Hamparan, dataran tanah Aceh Singkil menurut pakar botani, lebih cocok ditanam kelapa sawit dan karet. Sehingga tidak mengherankan, kelapa sawit ini telah menjadi tanaman primadona warga. Bahkan, telah menjadi icon daerah.

       Apabila kita menyelusuri jalan-jalan desa di Aceh Singkil di kiri-kanan jalan, sejauh mata memandang, kita menyaksikan berpuluh-puluh hektar  tanaman  sawit. Ada yang telah tua berbuah lebat dan banyak pula yang masih remaja yang berbunga pasir.

        Sawit ini, di samping punya masyarakat, lebih banyak lagi pula milik perusahaan. Malah di Aceh Singkil, ada enam perusahaan bonafid yang membuka usaha perkebunan kelapa sawit  lengkap dengan pabrik CPO-nya. Tersebutlah di antaranya perusahaan peninggalan penjajah Belanda, PT. Socpindo namanya.
                                                           ***
       Kendati tanaman kopi tidak mau tumbuh di Aceh Singkil. Akan tetapi, warga  yang berpenduduk sekitar seratus ribu lebih itu, tidak ada yang tidak mengenal buah kopi. Dengan kata lain, buah kopi ini bukanlah sesuatu yang asing bagi mereka.

      Lazimnya daerah-daerah pesisir pantai, termasuk di Aceh Singkil, terutama daerah Pulau Banyak, Kuala Baru, Singkil, dan Gosong Telaga, buah kopi telah dijadikan bahan penyedap minuman. Bahkan tradisi minum air memakai rempah kopi telah  menjadi budaya.

     Bagi mereka kalau tidak minum kopi sehari barang segelas, dunia ini serasa berputar. Kepala pening, nyut-nyut, dan otak tidak encer berpikir. Apalagi bagi nelayan, saat  melaut mencari ikan, kalau tidak minum kopi, badan tidak segar alias lesu saat diterpa sang bayu.

     Karena itu tidaklah sesuatu yang aneh, apabila di perkampungan-perkampungan Aceh Singkil, kita banyak menemukan kedai kopi. Warga setempat menyebutnya dengan nama lapo kopi.

      Konon, istilah Lapo kopi ini  dikutip dari akronim ‘La yang berarti lapangan dan Po berarti politik. Jadi lapo kopi, adalah lapangan politik. Tempat warga berhujah, berdiskusi, mehota dari membahas persoalan remeh temeh, berbagai perkembangan, dan isu-isu santer, tak terkecuali juga,  persoalan kemasyarakatan.

       Bahkan, berbagai masalah pemerintah, Negara, dan politik ke kinian acap “dikuliti” di lapo kopi ini. Kalau lagi musim Pemilu, kontenstan sering menjadikan lapo kopi sebagai tempat kampanye yang murah meriah.

      Minimal di lapo kopi, mereka mempersamakan persepsi terhadap persoalan yang ada. Dalam menyamakan persepsi ini kerap terjadi debat kusir atau pertengkaran kecil-kecilan. Layaknya, seperti acara talkshow di televisi. Masing-masing memainkan peran. Ada berperan sebagai pengulas, penanya, dan ada pula sebagai komentator. Pokoknya, lapo kopi ini selalu seru, riuh, dan ramai setiap hari.

       Di lapo kopi inilah, biasanya masyarakat duduk berkumpul dan berleha-leha, “membunuh rasa suntuk” baik waktu siang  maupun malam hari. Mereka menghabiskan waktu duduk berjam-jam sembari menenggak segelas kopi, mengisap beberapa batang rokok plus makan-makanan ringan berupa bubur pulut ketan,  goreng-gorengan dan lain-lain.

       Di beberapa lapo kopi yang terdapat di Gosong Telaga dan Kuala Baru, ada kuliner khas  untuk sarapan pagi. Yaitu, ketan makan dengan lauk sambam atau ada juga ketan yang dikudok dengan ikan goreng balado. Maknyusss!

       Menariknya, di lapo kopi,  di antara pengunjung, nyaris tidak terlihat adanya perbedaan status dan strata sosial. Siapa yang besar suara dan pandai mengolah kalimat serta sedikit pintar beretorika,  perkataannya sering didengar. Malah, ungkapannya pun acap dijadikan rujukan. Apalagi kalau dia mau merogoh kantongnya, membayar minum kopi dan rokok pengunjung. Ia akan menjadi ‘bintang’ di lapo kopi itu.
                                                                        ***

       Selain mehota, pengunjung ada juga yang bermain catur, main halma. Malah  akhir-akhir ini,  marak dan sedang digemari main batu domino. Entah kapan dan siapa yang membawa permainan yang membangun imajinasi ini ke Aceh Singkil, banyak orang yang tidak bisa menjawabnya dengan pasti. Yang jelas, permainan ini telah menjadi tradisi di berbagai lapo kopi yang ada di Aceh Singkil.

      ‘Tidaklah ramai dan semarak sebuah lapo kopi, kalau lapo tersebut tidak menggelar permainan batu domino. Karenanya di sebuah lapo kopi, banyak ditemukan lapak mainan batu domino.

       Permainan yang menggunakan kubus berukuran kecil empat persegi panjang dengan tulisan titik-titik yang ditafsirkan sebagai angka ini, dalam proses permainannya selalu dihempas. orang Aceh menyebutnya dengan fe batee. Batu ini terus dihempas oleh pemain yang terdiri dari empat orang. Permainan fe batee ini, oleh ibu-ibu di Aceh Singkil disebut, menokok batu batu tak salase-salase.

        “Tak…tak…tak,” begitu bunyi hempasan batu domino yang terbuat dari bahan plastik campur fiber memecah kehening malam. Suara ini pun acap terdengar  tingkah meningkah dengan bunyi jangkrik, cacing tanah atau binatang malam lainnya.

Memang, para pemain batu domino tidak bertaruh uang. Melainkan mereka hanya bertaruh jongkok. Ada juga taruhan orang yang kalah membayarkan kopi yang menang. Taruhan seperti ini lazim mereka dilakukan tanpa beban. Mereka berpandangan, hanya sekadar ‘penikmat’ permainan.

Bila dicermati lebih dalam, peran lapo kopi sangat besar dalam pembangunan. Banyak ide-ide pekerjaan besar dan monumental yang diracik, dimatangkan, dan dikemas dalam diskusi lapo kopi. Lapo kopi menjadi ajang musyawarah pembangunan (Musrenbang). Misalnya, pembangunan masjid, jalan desa dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Tidak jarang, persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan acap dibicarakan di lapo kopi.

Budaya lapo kopi ini, tanpa disadari telah membentuk karakter yang melekat pada masyarakat Aceh Singkil. Mereka kuat dalam berpikir dan daya ingat, karena pengaruh seringnya bermain catur dan main batu domino. Pintar berdebat dan beretorika, karena acap berdiskusi di lapo kopi membahas berbagai persoalan. Konon petinggi dan orang-orang hebat di Aceh Singkil banyak yang berasal dari alumni ‘sekolah’ lapo kopi ini.

Singkatnya, lapo kopi di Aceh Singkil, telah menjadi multi fungsi. Sebagai tempat jualan air kopi dan penganan lainnya, kohesi sosial, tempat mehota sekaligus Musrenbang pembangunan, sekolah sosial dan juga sebagai ajang bisnis rumahan.
***
Sebagai ajang bisnis rumahan, lapo kopi yang ada di Aceh Singkil, telah mengindikasikan bahwa dari sinilah titik  gerak ekonomi dimulai. Paling tidak, lapo kopi ini menunjukkan tingginya semangat warga dalam mencari nafkah untuk menyambung hidup atau tetap survive.

Karena lumrahnya sebuah lapo kopi dan orang-orang yang berada di dalamnya, sejak pukul empat pagi, telah bangun dan melakukan aktifitas bisnis. Dari menyalakan api, menjarang air, membuat penganan sarapan, dan membuka pintu lapo kopi hingga melayani pengunjung yang mau makan-minum di lapo kopi tersebut.

Ada sebuah falsafah hidup yang dianut pedagang lapo kopi di Aceh Singkil, ‘kalau mau jualan kopi, bersiap-siaplah membuka warung kopi sebelum orang lain bangun dan aktifitas lain dimulai. Kalau  tidak mau melakukan itu, jangan pernah membuka lapo kopi dan siap-siaplah menerima umpatan.’
                                                            ***
  
 Umumnya, tradisi minum kopi di daerah-daerah lain termasuk di Aceh disajikan dengan cara memasukkan biji kopi yang telah diracik dan dihalusi dengan mesin penggiling ke dalam cawan besar yang di dalamnya telah tersedia air panas. Lantas air yang telah dicampur bubuk kopi ini disaring lagi dengan saringan berbentuk kaus kaki. Saringan ini, secara berkala diangkat-angkat atau ditarik-tarik ke atas barang dua atau tiga kali. Kemudian barulah air kopi itu dimasukkan lagi ke dalam ceret melalui saringan yang telah dipasang.

          Lantas dari ceret inilah air kopi dituangkan pada gelas yang ditaburi gula. Lalu disajikan kepada penggunjung warung kopi yang memesan. Jadi, proses penyaringan air kopi berlangsung sebanyak dua kali.

            Berbeda dengan penyajian kopi di lapo kopi  Aceh Singkil. Biji kopi, terlebih dahulu digongseng hingga bewarna hitam arang. Setelah itu, biji kopi ini ditumbuk mengunakan alu dan lesung atau lumpang. Sebelum ditumbuk, biji kopi tadi ditaburi dengan sedikit beras pulut, barulah ditumbuk hingga halus dan menjadi serbuk. Sebuk ini diayak hingga buah kopi halus seperti tepung.

Nah, serbuk tepung kopi inilah yang disedu di lapo-lapo kopi di Aceh Singkil. Penyeduan ini, masih ala tradisional, unik, dan ala rumahan. Kopi diseduh  dengan cara memasukkan bubuk kopi dan gula secukupnya ke dalam gelas. Setelah itu, baru dituangkan air mendidik yang panasnya luar biasa. Air panas inilah secara alamiah langsung merebus kopi.

Setelah dibuat tadah berupa piring di bawah gelas, pelayan pun menghidangkan kepada pengunjung. Pengunjung mengaduk kopinya dengan sendok. Ketika diaduk bubuk kopi terasa pekat menyatu dengan air dan gula.

Jika penikmat menyerumput air kopi, ampas serbuknya turut bercampur dengan air yang diminum. Di titik inilah, minum kopi, terasa mantap dan nikmat. Kopi seperti ini, kalau di Aceh Singkil namanya kopi pakek. Di daerah lain, dinamakan lumpur atau kopi tubruk. Konon di  Arab  lebih dikenal dengan sebutan turkish coffee. Nah, bagi penggemar kopi, kunjungilah lapo kopi Aceh Singkil. Dahaga coffein Anda akan dimanjakan di sana.[]

Sadri Ondang Jaya, S.Pd
Guru dan Penulis Buku Singkil Dalam Konstelasi Sejarah Aceh (SDKSA)