Sabtu, 17 Maret 2018

Ali Djauhari Laki-Laki Penembus Batas


Ali Djauhari
Laki-Laki Penembus Batas*
Oleh : Sadri Ondang Jaya**

Saya tahu nama Bang Ali Djauhari di tahun 1990-an. Adiknya, Salman Alfarisi yang memberitahukannya. Kebetulan Salman Alfarisi itu, teman saya yang sama-sama berasal dari Singkil. Plus tetangga saya pula di Banda Aceh. Tepatnya, kami tinggal di Kelurahan Bandar Baru-Lamprit.

Sebagaimana lazimnya teman dan tetangga, Salman Alfarisi yang ketika itu kuliah bersama saya di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) tapi beda fakultas, tergolong sosok yang acap beranjangsana ke kediaman saya.

Dalam aktivitas anjangsananya itulah, Salman Alfarisi membeber dan memerkenalkan keluarganya. Termasuk Abangnya Ali Djauhari. Ia juga kerap menyebut-nyebut  kiprah abangnya itu di dunia bisnis.

“Saya dengan Abang Ali Djauhari, hanya dua bersaudara. Yang sulung dia. Sedangkan yang bungsu saya. Abang saya Ali Djauhari sangat suka bergelut dengan dunia bisnis,” tutur Salman Alfarisi.

Mendengar tuturan Salman Alfarisi putera dari H. Aliswan dan Hj. Salmah dan dari berbagai referensi yang ada, saya mulai mengenal sekaligus penasaran dan kagum dengan sosok Ali Djauhari.

Ditambah lagi teman-teman lain banyak mengatakan, bahwa Ali Djauhari pernah menjadi promotor dan sponsor pertandingan tinju yang digelar di Lhokseumawe, Aceh Utara. Termasuk juga sponsor berbagai pertandingan olahraga lainnya dan even seni-budaya di berbagai tempat di Indonesia.

“Ali Djauhari, termasuk salah seorang promotor dan impresario Indonesia yang berkiprah dalam berbagai pementasan dan pertujukan seniman dan olahragawan kenamaan Indonesia,” begitu informasi dari teman-teman saya.

Sejak itu, gerak-gerik dan sepak terjang Bang Ali Djauhari saya intip dan endus. Buah pikiran, ide-ide, dan statemennya selalu saya amati dan ikuti dari “kejauhan”.

Malah, pernyataan-pernyataan Bang Ali Djauhari yang cemerlang nan bernas acap saya kutip. Saya jadikan bahan tulisan. Kemudian, saya publis ke Harian Serambi Indonesia, salah satu harian terbitan di Aceh.

Suatu ketika, untuk keperluan bahan menulis buku, saya memberanikan diri mewawancari Bang Ali Djauhari melalui telepon genggam (hand phone). Ia pun menjawab wawancara itu dengan baik.

Mulai dari situ, persaudaraan kami tambah erat dan hangat. Selanjutnya, saya dengan Bang Ali Djauhari terus berkomunikasi dan berinteraksi secara intens melalui hand phone dan media sosial.

Dalam sebuah kesempatan, barulah saya dengan pria beranak tiga itu  bersua dan bertatap muka. Kami ngobrol banyak. Bercakap-cakap dari “Sabang sampai Meuroke sambung menyambung menjadi satu”.

Singkatnya, pembicaraan saya dengan Bang Ali Djauhari, tidak hanya mengenai satu masalah. Tetapi, melebar pada persoalan-persoalan lain. Termasuk masalah kampung halaman. Menyangkut dengan seni, budaya, dan peradaban, masalah ini menjadi bahan yang serius kami perbincangkan.

Ngobrol dengan Bang Ali Djauhari sangat berkesan. Ia rendah hati, ramah, baik, dan berwawasan. Bagi saya omongannya, seperti bumbu penyedap yang menggugah, menyengat, menawarkan inspirasi, mencerahkan serta membawa kesan yang mendalam. Pokoknya, sangat interes.

Terakhir saya jumpa Bang Ali Djauhari bersama isteri dan anak-anaknya pada lebaran Idul Fitri 1438 H (tahun 2017 M) di sebuah penginapan milik Dr. Fadjri Alihar, Sapo Belen, Pulo Sarok, Aceh Singkil.

***
Bang Ali Djauhari dalam sebuah pembicaraan dengan saya mengatakan, Singkil termasuk daerah yang pertama kali dibangun sekolah dasar di Aceh. Keterangan ini didapatkan dari neneknya Isyrin Nasifah.

“Kita orang Singkil jangan lupa. Sekolah dasar pertama kali dibangun di Aceh, ya di Singkil. Murid perempuan pertama sekolah tersebut, termasuk nenek saya, Isyrin Nasifah,” ungkap Ali Djauhari.
Dengan dibangunnya sekolah pertama di Singkil, ini salah satu bukti bahwa Singkil termasuk daerah di Indonesia yang  telah memiliki peradaban tinggi.

Berbicara tentang peradaban, tanpaknya Bang Ali Djauhari, sangat fasih dan khatam. Ia mengatakan, peradaban tak mungkin bisa dibangun dengan orientasi bersifat materialis semata. Artinya, terlalu mementingkan pengumpulan harta dan  kekuasaan.

Jika itu yang terjadi, maka peradaban tadi akan mengalami kemerosotan bahkan lambat laun akan hancur. “Peradaban manusia yang unggul harus dilandasi oleh rasa cinta, kasih sayang, berbagi, keikhlasan, dan kejujuran,” tandas Bang Ali Djauhari.

Berkaitan dengan perkembangan kampungnya, Singkil. pria kelahiran 20 Agustus 1963 itu pernah memerotes kecendrungan pola pikir dan sikap warga Singkil dalam memilih pekerjaan.

“Sebagian besar warga Singkil  dalam memilih pekerjaan lebih mau  menjadi pegawai negeri atau bergelut dengan dunia politik. Enggan menggeluti sektor bisnis, perdagangan, wirausaha atau saudagar. Jika pun ada yang berwiraswasta, hanya menjadi kontraktor,” tutur Ali Djauhari bisnisman nasional itu.

Padahal, kata Ali Djauhari, orang Singkil dari dulu lebih suka menekuni pekerjaan wirausaha, dagang, dan saudagar. Sehingga sejarah membuktikan, aktivitas dagang mereka sampai ke manca negara.

Singkil itu, dari dulu lebih dikenal dengan kota dagang. Ada tiga unit pelabuhan terbesar di Singkil merupakan tempat sandar dan transaksi dagang.

Orang Singkil punya perahu atau boat besar yang digunakan untuk berdagang ke berabagai daerah. Termasuk ke manca negara, seperti Malaysia, Singapura, dan negara-negara Asia lainnya.

“Apabila di sebuah daerah terdapat 2,5 persen dari warga daerah  itu memiliki semangat wirausaha, maka daerah tersebut akan cepat maju dan berkembang. Aceh Singkil menjadi daerah tertinggal dan termiskin, karena warganya lebih disibukkan oleh kegiatan politik semata. Sementara aktivitas wirausaha diabaikan,” begitu tutur Ali Djauhari pada saya.

***

Dari beberapa kali diskusi baik secara tatap muka maupun melalui hand phone dan media sosial, ada satu karakter yang menurut saya, sangat menonjol pada diri Bang Ali Djauhari.

Ia memiliki intuisi, pengetahuan, kecerdasan, dan wawasan luas yang menembus batas, berorientasi ke masa depan. Dengan kata lain, ia memiliki visi untuk menapaki kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, saya melihat Bang Ali Djauhari, sosok yang selalu mampu mengumpulkan mozaik yang terpecah-pecah menjadi sebuah gambar yang utuh yang membentuk sesuatu di masa depan.

Yang lebih penting lagi, Bang Ali Djauhari memercayai gambar yang dilihatnya sebagai suatu kebenaran dan ia bergerak cepat meresponnya.

Ia bisa dan begitu cepat melakukan perubahan dalam hidup. Karena ia memiliki ‘indera ke enam’ dalam melihat perubahan itu. Lalu, ia bergerak dan menyelesaikan perubahan itu sampai tuntas.

Itulah yang membuat Bang Ali Djauhari sosok yang tak pernah berhenti,  tak pernah surut langka dalam menularkan ide-ide cemerlang dan bernas. Kemudian ide-ide tersebut diwujudkannya dalam alam nyata dengan hasil yang gemilang.

Di antaranya banyak karakter Bang Ali Djauhari, saya melihat sifat forward-looking inilah yang harus kita tiru. Setidaknya, ia telah mengajari kita untuk menjadi diri sendiri agar tidak pantang menyerah dalam menghadapi kegagalan-kegagalan hidup.

Bang Ali Djauhari pernah mengatakan pada saya,  kendati kita lahir di kampung, wawasan kita harus luas dan visi kita merambah jauh ke depan.

Anda bisa mengubah sesuatu menjadi baik ketika Anda telah berhasil mengubah diri sendiri menjadi baik. You can change all thing for the better when you change your self for the better.

“Ini semua bisa kita lakukan dengan banyak belajar pada sejarah dan peradaban bangsa-bangsa yang telah duluan maju,” ujar Bang Ali Djauhari.

Pernyataan itu, telah dibuktikan Ali Djauhari. Tatkala beliau menjadi mahasiswa Faultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Ia tak pernah tenang dan selalu “gelisah” serta bergerak membuat perubahan.

Lalu kegelisahan dan perubahan itu diwujudkannya dengan keluar dari gelanggang kampus dan memilih mendirikan dan membuka usaha Lembaga Bisnis Manajemen Komputer (LBMK) di Medan.

Tidak lama berkutat di LBMK, ia mengembangkan usaha bisnis lainnya hingga merambah ke manca negara dan bercokol nyaris ke segala sektor. Termasuk suplier berbagai  perlengkapan senjata, trading bahan kimia dan minyak.

Malah, saat digelar pemilu masa Presiden Republik Indonesia ketiga Prof. Dr. Ing H. Bacharuddin Jusuf Habibie, tahun 1999, Ali Djauhari dipercayakan sebagai pemasok tinta pemilu. Sehingga pemilu masa itu, tergolong pemilu yang sukses di Indonesia.

Perusahaan Bang Ali Djauhari tidak saja bermitra dengan berbagai perusahaan lokal dan nasional. Melainkan juga bermitra dengan berbagai perusahaan minyak dunia. Seperti, perusahaan minyak Bayegan Turki, Panama Oil India.

Dalam kerja sama dengan Panama Oil dan Bayagen, Bang Ali Djauhari, kata Salman Alfarisi kepada saya, langsung sebagai representatif marketing di Indonesia.

“Bang Ali Djauhari yang mewakili kedua perusahaan itu di Indonesia. sebagai representatif marketing,” terang Salman.

Di samping itu, Bang Ali Djauhari juga mengelola atau sebagai CEO di PT Equator Media Vaganza, sebuah usaha yang bergerak di bidang penerbitan atau media online.

Bukan itu, Bang Ali Djauhari juga berkecimpung dalam dunia sosial dan kemasyarakatan. Lebih inten pada pergerakkan budaya dan seni.

Bang Ali Djauhari, figur yang getol mengorganisasi dan membiayai sebuah pagelaran konser, permainan drama; Dapat dianalogikan pekerjaan ini serupa dengan manajer artis atau produser film atau produser televisi. Pekerjaan seperti ini dikenal dengan istilah impresario.

Bahkan Bang Ali Djauhari, tergolong impresario Indonesia yang kawakan dan bertangan dingin. Ia acap berkiprah dalam berbagai pementasan penting seniman kenamaan Indonesia, seperti WS Rendra, Sawung Djabo, dan yang lainnya.

Pernah pula mensponsori kegiatan Tour Sumatera Iwan Fals-Kantata Takwa. Membawa dan menampilkan tari-tarian Singkil di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dibawa anak-anak dari Sanggar Gelanggang Bhakti-Singkil.

Tidak itu saja, tahun 1989 pernah pula jadi sponsor pertunjukan Teater Koma di Medan dengan judul Sampek Engtay yang disutradarai N Riantiarno. Petunjukkan ini mendapat respon dan hangat dibicarakan di kalangan seniman.

Karena itu, tidaklah berlebihan, jika Bang Ali Djauhari kita sebut salah satu pengusaha papan atas Indonesia. Atau sebagai the rising star-nya Indonesia yang selalu melalang buana dan berpetualang ke berbagai daerah dan negara.

Hari ini, ia berada di Dubai, besok sudah terbang ke India. Lalu lusanya di London. Kembali ke Jakarta kemudian berangkat ke negara bagian Amerika Serikat, lalu ke Malaysia dan negara-negara lain di dunia. Semua itu dilakukan untuk urusan bisnis dan “membaca peradaban”.

Kemudian peradaban yang disaksikannya itu, setiap saat selalu dipostingnya di status facebook dan menjadi bahan diskusi berbagai teman. Lalu menjadi simpul-simpul pemikiran yang kemudian diejawantahkan dalam alam nyata.

Berkat kerja keras dan ketekunannya, sosok Ali Djauhari berhasil menciptakan sekian usaha yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan banyak orang.

Nyatalah bahwa Bang Ali Djauhari, sosok yang sering menggulirkan ide-ide cemerlang yang menembus batas ‘yang apabila tersentuh tangannya berubah menjadi emas’.

Ia figur yang tak mengenal kata akhir dalam berjuang. Mesin pembakar perjuangan Bang Ali Djauhari, hanya kepercayaan, ikhlas, jujur, visi, dan kerja keras serta tuntas.

Bang Ali Djauhari pernah memberikan nasihat pada saya dengan mengutip surat ke-94 Al-Insyirah ayat 5-8 : “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”[]

Gosong Telaga, 9 Maret 2018

*Tulisan ini dibuat untuk memenuhi keinginan panitia sebagai     bahan penerbitan buku memoar Ali Djauhari
** Sadri Ondang Jaya seorang guru yang saat ini berdomisili di Gosong Telaga, Aceh Singkil.

Sabtu, 23 Desember 2017

Qua Vadis Pemuda Aceh Singkil: Menyulap Daerah “4 Ter” Menjadi Daerah Satelit



Menjelang Musda DPD II KNPI Aceh Singkil

Qua Vadis Pemuda Aceh Singkil: Menyulap
Daerah “4 Ter” Menjadi Daerah Satelit
Oleh : Sadri Ondang Jaya


18 tahun lalu, Aceh Singkil ditetapkan pemerintah RI menjadi daerah otonom. Ia mekar dari kabupaten induknya, Aceh Selatan. Hal ini sebagaimana termantuf dalam Undang-Undang Nomor: 14 Tahun 1999.
           
Kendati usia Aceh Singkil telah beranjak dewasa. Namun, daerah yang berjuluk nagari Syekh Abdurrauf itu belum bisa dikategorikan daerah berkembang. Ia masih tergolong daerah nelangsa. Alias daerah “tersingkir”.

Ketersingkiran Aceh Singkil itu,  telah dilegitimasi  pula oleh Peraturan Presiden Nomor 131 tahun 2015. Isinya menyatakan, Aceh Singkil termasuk salah satu daerah miskin di Indonesia.

Tak cukup itu saja, Aceh Singkil pun di kalangan masyarakat ‘tertentu’ telah mendapat stigma sebagai daerah “4 Ter”. Terpencil, termarginal, termiskin, plus terbanjir.

Pelabelan Aceh Singkil sebagai daerah 4 Ter, membuat banyak orang terkesiap dan gusar. Pedih rasanya, bak daging tersayat sembilu.

Di antara elemen masyarakat yang paling gusar tadi, adalah kalangan mahasiswa dan pemuda. Yang notabene, merekalah sesungguhnya pemilik sah Aceh Singkil ke depan.

***
Apa yang membuat Aceh Singkil mendapat gelar 4 Ter? Setelah ditelusuri, rupanya, pemberian gelar itu berdasarkan hasil surve statistik dengan menggunakan sejumlah indikator.

Salah satu indikator itu adalah, Aceh Singkil memiliki pertumbuhan ekonomi dan geliat pembangunan sarana dan prasarana yang masih minim.

Ditambah lagi, kemampuan keuangan dan aksesbilitas Aceh Singkil, berada di bawah rata-rata nasional.

***
Sebenarnya, jika ditilik dan dicermati dari potensi yang dimiliki Aceh Singkil dan letaknya yang sangat strategis, mustahil Aceh Singkil menyandang stigma daerah 4 Ter.




Aceh Singkil menjadi daerah 4 Ter, menurut saya, karena
potensi sumberdaya yang dimiliki Aceh Singkil selama ini, belum dikelola, garap, dan diberdayakan dengan baik, serius, dan optimal.

Untuk mengelola potensi Aceh Singkil atau mengekspolatasi  rahmat menjadi nikmat, bukanlah pekerjaan mudah. Para pendahulu kita, telah berusaha mewujudkannya.

Namun, apa daya : “Mereka telah coba apa yang mereka bisa. Tapi kerja belum selesai. Belum apa-apa.”

Jadi, untuk memupuskan gelar daerah 4 Ter. Dengan kata lain, menciptakan Aceh Singkil yang makmur dan sejahtera. Pemudanya tak boleh berpangku tangan. Apalagi diam.

Pemuda Aceh Singkil, harus bangkit, tegak, dan bergerak. Bekerja, dan bekerja. Melanjutkan ‘kerja yang masih terbangkalai dan belum apa-apa’.

***
Menyiasati hal itu, tak boleh ditawar-tawar lagi, hari ini dan seterusnya, pemuda harus memainkan peran dengan cara bersinergi dengan elemen masyarakat terutama Pemkab. Aceh Singkil dalam menggali, menggarap, dan memberdayakan segala potensi yang dimiliki Aceh Singkil.

Kemudian turut serta menyeting, menggerakkan, dan memacu pembangunan.

Jangan pernah mengatakan, tak bisa. Pemuda Aceh Singkil harus percaya diri: “Aceh Singkil itu hebat.” Hebat sejarahnya, hebat budayanya. Hebat etos kerjanya.

***
Lalu, pemuda yang bagaimana dibutuhkan menggarap potensi alam, menggeliatkan ekonomi Aceh Singkil dan menyulap daerah 4 Ter menjadi daerah satelit itu?

Pemuda yang berhati dan berpikir jernih, serius, dan punya sikap mental yang elok dan mumpuni.

Terutama, pemuda tadi harus cerdas, jujur, energik, dan berani. Jika perlu, sosok pemuda yang  “rada-rada gila”.

Artinya, pemuda itu memiliki personality, behaviour, dan the sense of power. Sanggup sebagai agen of change.

Setelah itu, pemuda harus pula punya inovasi dan kreatifitas. Ia memiliki visi, misi, dan strategi yang jelas.
Selalu menciptakan harapan atau impian-impian baru. Tak kalah pentingnya, ia harus selalu optimis dan memiliki pemikiran yang terbuka.

Sebab, harapan baru, rasa optmisme yang tinggi, dan keterbukaan berpikir, akan memberikan dorongan dan menggelorakan semangat perubahan. 

Untuk memelihara harapan agar terus hidup dan berkembang, pemuda harus menunjukkan progres melalui hal-hal yang dapat dilihat secara kasat mata. Tidak  ‘cet langit’  atau omong doang.

Ia harus mampu mengajak orang lain melihat apa yang ia “lihat”, lalu bergerak dan menuntaskannya.

***
Memang, mencari sosok pemuda yang demikian, sangat susah. Apalagi di tengah-tengah menguatnya budaya pragmatisme seiring dengan mengglobalnya dunia.

Budaya di kalangan orang tua Aceh Singkil pun, belum kondusif. Mereka belum terbiasa memberikan dukungan, kesempatan, dan peluang kepada pemuda untuk mewujudkan ide-ide cemerlang. Pemuda itu baru berbuat, terus dipatahkan. Kapan mereka bisa?

Akibatnya, pemuda Aceh Singkil kekinian terjebak pada kepercayaan diri yang berlebihan yang muaranya pada kepentingan prakmatis, materialis, dan berorientasi pada kelompok dan etnis.
***
Kendati begitu, kita tak perlu pesimis. Masih banyak pemuda-pemudi Aceh Singkil  yang baik. Mereka cerdas, pemikirannya idealis dan brillyan.

Malah, sekarang banyak pemuda Aceh Singkil yang beraninya luar biasa, urat takut telah hilang. Mereka pun memiliki komitmen tinggi untuk membangun Aceh Singkil.

Mereka-mereka itu, pasti mampu menghilang stigma Aceh Singkil dari daerah 4 Ter menjadi daerah satelit yang berkembang dan maju. Bahkan, tidak mustahil menjadi daerah Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Itu semua bisa dilakukan dengan syarat: Qua vadis pemuda Aceh Singkil, harus bergerak serempak dan mengarah pada perubahan. Sekali perubahan.

Syarat lainnya, pemuda Aceh Singkil harus meninggalkan cara berpikir lama nan usang.

Karena Peter Drucker pernah mengatakan,“Bahaya terbesar dalam turbulensi (menimbulkan gangguan, keresahan, dan tidak nyaman....) bukan turbulensi itu sendiri, melainkan ‘cara berpikir kemarin’ yang masih dipakai untuk memecahkan masalah sekarang.”

“Pemuda Aceh Singkil hari ini, jangan pernah mengulang kesalahan masa lalu. Keledai saja, tak pernah terperosok dua kali dalam lubang yang sama.”

Nah, mari kita sambut pemuda Aceh Singkil sebagai agen of change. Sehingga Aceh Singkil menjadi daerah yang gilang gemilang.

Bung Karno, presiden Indonesia pertama mengungkapkan: “Berikan kepadaku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, tetapi berikan kepadaku 10 pemuda, akan kuguncangkan dunia ini.”[]

Senin, 12 Juni 2017

Kenangan di Pantai; Dari Memetik Pidara Hingga Nangkap Ambe-Ambe




Salah satu pemukiman yang elok dan rancak di Aceh Singkil, Aceh, adalah pemukiman Gosong Telaga.

Kerancakkan Gosong Telaga ini, bukan saja karena penataan rumah-rumah yang teratur, apik, dan merik. Melainkan juga, pemukiman ini sangat aduhai dan rupawan. Ia memiliki pantai yang indah nan eksotis.

Keindahan Pantai Gosong Telaga ini, menyimpan kenangan tersendiri dalam relung hati saya. Anehnya, kenangan masa silam itu pun, mencuat kembali dalam ingatan, tatkala beberapa hari lalu saya duduk ‘nyantai’ di pondok tepi Pantai Cemara Indah (PCI) Gosong Telaga.

***
Dulu, ketika saya masih bocah, bersama teman-teman saya acap bermain-main di Pantai Gosong Telaga.

Di pantai itu, kami mandi-mandi dibirunya air laut sembari berkejar-kejaran atau sering kami sebut dengan main nenek-nenek.

Jika yang dikejar berhasil ditangkap. Ia akan mengambung, yaitu dengan cara menaikkan kakinya ke atas pundak lalu melemparkan ke udara. Ada pula ‘bayarannya” dengan mengendong sesuai jarak yang disepakati.

Kejar-kejaran terus berlangsung, yang mengejar dan dikejar bergilir, bergantian-gantian. Main kejar-kejaran sangat mengasyikkan. Bisa pula menguat dan membugarkan fisik. Karena dalam permainan ini, ada unsur renang, menyelam, lari, dan unsur mengangkat beban.

Apabila sudah capek mandi-mandi dan bermain kejar-kejaran, kami mengubur badan di pasir, hanya kepala saja yang kelihatan. Ini dimaksudkan, supaya penat di badan hilang. Juga diyakini ampuh membasmi kalau-kalau di badan ada gejala penyakit tulang.

Banyak pula yang mengatakan, menanam badan di pasir apalagi saat panas terik, sangat cocok mengobati penyakit struk dan rematik.

***
Tidak ketinggalan, ada pula di antara kami, bermain luncuran menggunakan potongan papan berukuran setengah-satu meter. Papan tadi dipegang, lantas begitu ombak besar menghadang, papan dinaiki dengan cara memeluk dan mengarakan ke tepi pantai bersamaan dengan derasnya arus air laut.

Kalau sudah demikian, badan pun meluncur dan dibiarkan diterpa ombak hingga  hanyut  ke bibir  pantai.

Saat di ketinggian, nikmatnya tak terkira, seolah-olah kita berada di udara. Ada perasaan gigil dan gamang. Namun, mengasyikan.

***
Selain itu, kami juga mencari buah pidara (bidara/pidaro) yang batangnya banyak merimbun, tumbuh di sepanjang  pinggir pantai. Batang pidaro ini, pohonnya merampak, bercabang-cabang kecil, dan tak terlalu tinggi.

Jika musim berbuah, buahnya sangat lebat. Nyaris sama banyak dengan daunnya yang bewarna kuning kehijau-hijauan.

Kalau mau memetik buah, cukup menjulurkan tangan. Namun, mesti hati-hati karena cabang dan ranting-ranting pidara ini banyak ditumbuhi duri.

Kalau buahnya sudah matang, waduh enaknya bukan kepalang. Rasanya manis, asam, asin, dan kelat, bak permen Nano-Nano yang di perjual-belikan di kios-kios.

Pokoknya, rasanya banyak orang  suka. Belum dicicipi, mencium aromanya saja telah membangkitkan selera, mengundang  air liur pasang dan meleleh.

Buah pidara ini, bentuknya bulat, kecil sebesar buah kelengkeng dan tak berkulit. Permukaan buahnya, itulah daging buah, yang tebalnya beberapa milimeter saja.

Daging buah inilah yang banyak digemari orang, terutama wanita-wanita yang sedang hamil muda dan orang yang mulutnya dalam keadaan pahit sehabis demam.

Sesudah daging buah, lalu bijinya yang ditutupi  tempurung. Biji inilah, yang kemudian yang akan berkecamba, membentuk  pohon pidara baru.

***
Konon pidara ini, asal mulanya bukanlah tanaman tepi pantai. Melainkan, tumbuhan semak yang banyak tumbuh di pinggir oase-oase di Negara Timur Tengah. Entah siapa yang membawanya ke Gosong Telaga, tak tahulah kita. Yang jelas, tumbuhan ini berkembang biak dan tumbuh subur di Gosong Telaga.

“Dari sekian banyak pinggir pantai yang  telah saya kunjungi, saya tidak pernah menemui dan mendengar ada pohon pidara seperti di Gosong Telaga itu,” ucap Rosalita.

Rosalita (32 tahun) yang katanya berasal dari Sulawesi ini mengisahkan pengalaman pertama kali makan buah pidara. 

“Semulanya saya enggan memakannya, seperti makanan burung saja.  Tetapi ketika saya lihat keponaan saya memakan dengan lahapnya sambil mencecah dengan bumbu garam diaduk dengan cabe rawit, saya menjadi selera, lantas mencicipinya. Setelah saya makan. Eheem enak tak terkira. Makan lagi, dua, tiga dan empat buah. Saya pun langsung kesemsem. Enaaak ah,” tutur Rosalita.

Namun sayang, tumbuhan khas Gosong Telaga ini, sudah mulai langka. Populasinya mulai berkurang karena dihantam oleh gelombang tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 dan gempa Nias yang terjadi 28 Maret 2005 silam.

Di samping itu, banyak yang sudah ditebang dan penanam kembali tak pernah ada. Kalau ini tidak cepat dilestarikan dengan cara reboisasi, maka buah pidara akan menjadi kenangan. Bibir takkan bisa lagi mencicipinya.

Selain mandi-mandi dan mencari buah pidara di pantai Gosong Telaga, kami juga acap mencari dan menangkap burung. Ada burung punai (keroco), burung balam, berujuk, pipit, dan jenis lainnya.

Umumnya, burung-burung itu, membuat sarang dan bermain-main di seputar semak-semak. Kalau burung-burung itu berhasil kami tangkap, ada yang memeliharanya dengan cara mengurung di sangkar pelepah rumbia.

Burung-burung tadi,  ada juga yang kami potong. Lalu dibakar. Setelah matang, kami pun memakan dengan lahapnya. Waduh rasa dagingnya, luar biasa gurihnya. Enaaak tenan.

***
Di bibir pantai Gosong Telaga ini, juga banyak jenis kepiting yang kami sebut dengan ambe-ambe dan sigugu. Biota laut ini, acap bersenda gurau dan bekejar-kejaran dengan gerigi air. Mereka bersarang dengan cara menggali tanah yang tidak terlalu jauh dengan bibir pantai.

Ambe-ambe itu kami tangkap dan lalu kami laga. Setelah kepiting capek dan enggan berlaga, kami pun membuangnya begitu saja. Ada yang kembali ke laut dan ada pula yang mati.

Sementara sigugu kami bakar. Saat memakannya, mulut serasa memakan udang. Kata orang kandungan gizinya ok banget dan bisa sebagai obat “penguat”.

Suasana bermain-main  masa anak-anak di pantai Gosong Telaga itu, sungguh mengasyikkan, melambungkan angan menyirat kenangan.[]