Sabtu, 29 April 2017

                                      Perarakan Bunga Pada Hari Maulid Nabi Besar Muhammad SAW

IRONISNYA TAMBATAN PERAHU NELAYAN GOSONG TELAGA

Masyarakat Kemukiman Gosong Telaga, Singkil Utara, Aceh Singkil, mayoritas bermata pencarian nelayan.
Pekerjaan mencari nafkah keluarga itu, telah mereka lakoni ratusan tahun lalu dan berlangsung secara turun temurun.

Kendati begitu, ada hal yang menyesakkan dada, sangat ironis, dan memperihatinkan.
Paling tidak bagi saya, anak seorang nelayan dan dibesarkan dari tetesan darah "sambam" ikan.

Betapa tidak, jika kita tengok tempat tambatan perahu nelayan Gosong Telaga yang umumnya terletak di gerigi tepian sungai perkampungan, masih ala kadarnya, rentah, papah, dan alamiah.

Atap dan galangan tambatan perahu nelayan itu, masih terbuat dari daun dan batang kelapa. Tiang-tiangnya pun hanya kayu bulat seadanya.

Hal ini membuat perahu yang ditambat di tempat itu, cepat lapuk ditelan hujan dan panas.
Sehingga perahu-perahu para nelayan tadi yang terbuat dari kayu cepat rusak sebelum waktunya.

Diperparah lagi banyaknya binatang sungai, seperti kapang dan teritit, yang selalu  menggerogoti.
Ironisnya lagi, tambatan perahu yang dibuat nelayan dari dana kantong sendiri, tidak tersedia tempat penyimpanan mesin robin, barang-barang, dan alat tangkap nelayan.

Tak ayal, perlengkapan yang lumayan berat ini, terpaksa dibawa nelayan ke rumah dengan memikulnya setiap hari. Saat berangkat dan pulang ke dan dari laut.

Jika ditinggalkan diperahu, perlengkapan tadi akan raib. Dicuri orang.

***
Biasanya, nelayan berangkat dan pulang melaut serta aktivitas di tempat tambatan perahu acap berlangsung pada malam hari.

Lagi-lagi disayangkan, alat penerang semacam listrik tidak tersedia di sana.
Apabila para nelayan beraktivitas, mereka hanya diterangi bolos. Paling banter senter. Kalau ini tak ada, alamat mereka meraba-raba di kegelapan malam.

***
Era sekarang telah maju dan modern plus banyaknya dana pembangunan yang tersedia--termasuk dana desa.

Mengapa sarana dan prasarana serta fasilitas untuk para nelayan seperti tambatan perahu ini, tidak menjadi prioritas didanai dan dibangun?

Mengapa  kita belum berkeinginan "memanjakan" para nelayan dengan menyediakan berbagai fasilitas yang maju dan modern?

Bukankah nelayan itu, adalah kita? Paling tidak, mereka punya andil menghidupi kita.
Jika pun itu tidak kita akui.  Bukankah pembangunan sejatinya untuk kepentingan rakyat termasuk di dalamnya para nelayan Gosong Telaga.

Uang desa itu, adalah uang mereka dan diprogramkan pemerintah untuk kesejahteraan mereka.

***
Apabila kita bertanya pada nelayan, seiring dengan banyak dana desa, pasti mereka mendambakan tempat tambatan perahu  yang repsentatif.

Atapnya terbuat dari seng, dan galangan perahu "berhidrolik". Ada pula tersedia gudang tempat penyimpanan mesin robin dan  perlengkapan alat tangkap lainnya.

Plus terdapat pula beranda atau balai-balai tempat nelayan menyirat jaring jika rusak.
Ditambah lagi penerangan listrik yang memadai meskipun bukan lampu mercuri.

Dengan berjibunnya dana desa sehingga tidak tahu lagi cara "menghabiskannya".
Sangat pantas kiranya jika kita membangun sarana prasarana untuk memanjakan nelayan yang notabene adalah saudara kita.

Kita rindu dan senang, apabila para nelayan Gosong Telaga tak pernah mengeluh.
Tidak lagi berputus asa dan bermuram durja karena minimnya hasil tangkapan atau saat haleon (paceklik) tiba.

Kita sangat senang apabila nelayan Gosong Telaga hidupnya sejahtera,  tak merasa sengsara.
Senang melihat rumah tangga mereka rukun dan damai. Jauh dari rongrongan "repetan" isteri setiap hari. Karena belanja sehari-hari dan isi lemari belum mencukupi.

Bukankah kita gembira, jika wajah nelayan Gosong Telaga,  selalu ceria. Aura dan gurat wajah mereka tidak terlihat tua padahal usianya masih muda.

Kita patut bermohon pada Allah agar dalam usia yang masih produktif, fisik para nelayan kita itu masih segar-bugar.

Tidak terlalu cepat sakit-sakitan dan berpulang kerahmatullah.
Kita tak ingin nelayan kita seakan "bergegas" meninggalkan anak yatim dan janda.

Padahal anak yatim dan janda tadi masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari sosok ayah dan suami tercinta.

Apabila kita cinta dan sayang pada nelayan. Karena nelayan itu adalah kita dan saudara kita.
Ayo kita keluarkan sejumput dana desa yang ada untuk membangun tambatan perahu nelayan.
Nah, setujukah Anda?-[]

Minggu, 23 April 2017

Menyambut HUT Ke 18 Tahun Aceh Singkil


Gosong Telaga--Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Aceh Singkil yang ke-18, ratusan dari PNS, anggota TNI Kodim 0109, dan warga lainnya, Minggu (23/04/2017) pagi,  mengikuti senam massal di Gelanggang Olahraga (GOR) Kasim Tagok, Aceh Singkil.

Para peserta sangat bersemangat mengikuti senam jantung sehat yang telah dimodifikasi dengan irama musik populer.

Amatan di lapangan, selain melaksanakan senam, panitia juga menyediakan kupon untuk peserta senam dalam bentuk hadiah doorprize dari sponsor tunggal Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Senam yang berlangsung kurang lebih satu jam yang dipandu instruktur senam yang ada di Aceh Singkil, selain dihadiri warga juga hadir Wakil Bupati, Dulmusrid, Kasdim 0109 Mayor Inf Trijoko Purnomo, Setdakab Aceh Singkil Drs Azmi, para Asisten, dan berbagai Kepala SKPD Aceh Singkil.

Wakil Bupati Aceh Singkil Dulmusrid mengatakan, senam massal itu dilaksanakan dalam rangkaian memperingati hari jadi kabupaten Aceh Singkil yang bakal dihelat 27 April 2017.

Dengan menggelar senam ini, tambah Dulmusrid, kita akan menjadi sehat. “Jika sudah sehat, Insya Allah kita lebih bergairah melaksanakan aktivitas,” ucap Dulmusrid.

Seusai senam dan pembagian hadiah, peserta dihiburkan berbagai artis lokal yang diringi oleh musik keyboard hingga menjelang siang.

Pameran Pembangunan
Memeringati Hari Jadi Kabupaten Aceh Singkil tahun ini, selain mengadakan senam massal, Pemkab Aceh Singkil juga akan menggelar pameran pembangunan selama sepekan, bakti sosial, pagelaran seni-budaya, dan upacara peringatan.

Menjelang tiga hari lagi peringatan hari jadi, satuan kerja perangkat kabupaten (SKPK), intansi vertikal, BUMD, perusahaan swasta telah membangun stand pameran mereka.

Puluhan tukang dan beberapa orang PNS terlihat sedang mengerjakan dan membenahi stand pameran.
“Sekarang kami sedang membenahi dan menghiasi stan pameran. Insya Allah beberapa hari lagi akan rampung,” ucap H Syamsul Bahri SH Kadis Dinas Syariat Islam Aceh Singkil.

Begitu juga dengan ratusan pedagang, mereka telah mulai mendirikan kios-kios untuk tempat berjualan di pelataran luar GOR, tempat dihelatnya upacara hari jadi dan pameran pembangunan.

Masyarakat Aceh Singkil pun, sepertinya sudah tak sabar menunggu perayaaan tahunan itu.
Mereka sudah terlihat antusias berduyun-duyun mendatangi lokasi perhelatan.[]

Rabu, 15 Maret 2017

Menanti Jalan Singkil-Trumon

Wed, Apr 27 th 2011, 08:03

Sadri Ondang Jaya - Opini
HARI ini, Rabu, 27 April 2011, Kabupaten Aceh Singkil memperingati hari jadi ke-XII. Selama kabupaten ini berdiri, ada salah satu keinginan masyarakat yang belum terealisasi. Yaitu, pembangunan ruas jalan baru Singkil-Bulusema, Trumon (Aceh Selatan) melalui lintas Kuala Baru.

Pembangunan infrastruktur ini, agaknya perlu mendapat respons dan dukungan positif dari semua pihak. Terutama, dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh. Kalau bisa ini menjadi “kado istimewa” untuk Aceh Singkil dalam usianya yang ke dua belas tahun ini.

Sebab, pembangunan jalan di ceruk pesisir pantai ini, sangat strategis, urgensi dan segala-galanya bagi masyarakat Aceh Singkil. Dengan adanya jalan ini bukan saja membuka Aceh Singkil dan Aceh Selatan dari keterisoliran. Tetapi juga akan menumbuhkan sentra-sentra baru perekonomian rakyat.

Masyarakat yang ingin menjual hasil cocok tanam dan alam ke daerah lain pun menjadi lebih mudah. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan ekonomi rakyat kawasan jalan di dua daerah itu, akan lebih cepat dan signifikan. Dan rakyat pun semakin makmur.

Karena ketidakadaan jalan terebos, yang datang ke Aceh Singkil, selama ini, adalah orang Singkil sendiri. Oleh sebab pulang kampung--melihat sanak famili--atau karena setelah bepergian dari daerah lain. Kalau pun ada orang lain yang berkunjung ke Singkil sangat minim dan karena ada keperluan. Misalnya, keperluan dinas. Setelah urusan selesai, mereka balik kanan, pulang ke daerah asal, dengan melalui pintu masuk (datang).

Datang ke Singkil ibarat menuju rumah di gang buntu, masuk dari gang itu dan keluar dari gang itu lagi. Aceh Singkil tidak mempunyai jalan penghubung (punya akses) dengan daerah-daerah lain di Aceh. Singkil bagaikan kota yang kurang gairah. Akibatnya, membuat akselerasi dan dinamika penduduk dan pertumbuhan ekonomi masyarakat lambat serta akses informasi dan transpotasi minim. Sehingga dari aspek ini, daerah yang berjuluk negeri Syekh Abdurrauf, tergolong daerah terbelakang dari 23 kabupaten/kota yang ada di Aceh.

Jika ruas jalan baru sepanjang 50,8 km ini dibangun, Singkil tidak lagi terisolir. Ia akan menjadi kota transit antara beberapa kabupaten/kota. Masyarakat pesisir pantai Sumatera Utara yang mau berpergian ke daerah pesisir pantai Barat Aceh menjadi lebih mudah. Jarak dan waktu tempuh pun menjadi sangat dekat dan singkat dibandingkan melalui jalan Subulussalam-Aceh Selatan.

Kalau dari Singkil menuju Tapaktuan melalui Kota Sibulussalam mencapai jarak tempuh sekitar 157 km, sedangkan dari Singkil ke Tapaktuan melalui jalan yang bakal dibangun (Kuala Baru-Bulusema), hanya 50 km saja. Jadi bisa diperpendek jarak mencapai 107 km.

Pembangunan ruas jalan ini, sebagiannya melintasi kawasan ekosistem Leuser (KEL). Sehingga ada pihak-pihak “menghadangnya” dengan mengatasnamakan “cinta lingkungan”. Mereka berkampanye, bila jalan ini dibangun lingkungan akan rusak. KEL merupakan paru-paru dunia.

Propaganda itu benar. Namun selama ini, mereka lupa dengan kemiskinan yang telah berpuluh-puluh tahun mendera masyarakat karena ketidakadaan akses ke luar (terisolir). Maunya, ada keseimbangan. Manusia sejahtera lingkungan tetap lestari.

Dulu, Papua disebut sebagai bola Asia-Pasifik yang harus diselamatkan dan dijaga kelestarian hutannya. Kanyataan hari ini di sana hutan telah rusak, karena telah berdiri Freeport yang keuntungannya sangat minim bagi rakyat.

Seorang teman nyeletuk, jangan-jangan “pahlawan” lingkungan dan orang luar (Eropa) itu, menganjurkan pelestarian kawasan Ekosistem Leuser, bertujuan, agar potensi alam tidak pernah dinikmati rakyat. Akhirnya, rakyat tetap miskin, kerdil, dan lemah. Sehingga, mudah dijajah.

Bijak
Dari diskursus di atas, pembangunan ruas jalan baru ini, memerlukan pertimbangan, analisa yang matang dan bijak. Prinsif kearifan dan kehati-hatian perlu diterapkan. Sebab, itu tadi, sebagian ruas jalan yang mau dibangun, akan melalui titik hutan suaka marga satwa.

Karena ini kawasan hutan lindung, paling tidak terlebih dulu harus dilakukan pertimbangan aspek hukum, teknis, sosial, ekonomi, dan risiko yang terkait dengan kondisi sekitarnya.Tegasnya, pembangunan jalan ini, harus selaras dengan faktor ekologis, sosiologis, aspek formil dan teknisnya.

Ini dilakukan karena pembangunan jalan terkait dengan kondisi lahan dan geologi serta isu internasional tentang pelestarian lingkungan hidup. Banyak sekali aturan-aturan dan “opini” yang menganjal pembangunan jalan ini. Kalau pembangunan jalan dilanjutkan semata-mata mengandalkan “semangat” membangun agar terbebas dari keterisoliran, dan keinginan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, tanpa memperhatikan aspek-aspek lain. Hal ini akan menjadi, preseden buruk. Bahkan “bumerang”.

Bisa-bisa kita akan digugat. Sebab, pembangunan jalan ini telah berbenturan dengan berbagai kepentingan dan pemanfaatan kawasan hutan lindung negara. Apalagi KEL, sudah menjadi isu dan milik dunia internasional. Dari aspek pertumbuhan ekonomi dan sosiologis, pembangunan ruas jalan Singkil-Blusema sangat urgensif dan mendesak. Kalau dipertanyakan pada masyarakat, pembangunan jalan ini sangat penting. Masyarakat berasumsi, sejatinya tujuan pembangunan, adalah membangun manusia. Bukan hewan atau tumbuhan. Apa artinya kemerdekaan dan pembangunan, kalau hidup masyarakatnya melarat, terlunta-lunta, dan miskin papa. Sementara monyet, harimau, gajah, tumbuhan, dan satwa lainnnya hidup dalam kesenangan. Ini jelas, sesuatu yang absurd.

Solusi
Tidak bisa dipungkiri, adanya akses transportasi di kawasan hutan, dapat menyebabkan maraknya pencurian kayu dan KEL akan luluh lantak. Namun, ilegal loging ini, tidak perlu dikuatirkan. Justru masyarakat Aceh Singkil, secara turun-temurun telah menjaga dan melestarikan hutan (Leuser).

Kalau hutan Aceh Singkil rusak, yang pertama menderita adalah masyarakat setempat. Apalagi pembangunan ruas jalan Singkil-Bulusema merupakan kebutuhan dan kehendak yang kuat dari masyarakat. Jadi segala konsekuensi dan solusi yang konstruktif pasti mendapat dukungan dari mereka.

Kemudian ada tawaran jalan keluar yang saling menguntungkan (win-win solusion). Pertama, pembangunan ruas jalan disesuaikan saja dengan kebutuhan publik. Tidak usah lebar jalan sampai 12 meter. Cukup 6 meter atau 4,5 meter saja. Dua, sepanjang jalan, di pingir kanan dan kirinya, dibuat pagar. Agar masyarakat tidak merambah kawasan hutan. Tiga, perlu partisipasi masyarakat dalam menjaga dan melestarikan hutan. Empat, dibuat perangkat aturan yang sifatnya memberikan penghargaan kepada yang melestarikan dan menanam hutan. Kemudian memberikan hukuman denda bagi siapa yang merambah hutan.

Prinsif keseimbangan harus menjadi “panglima”, pembangunan jalan Singkil-Bulusema tetap jadi. Satwa di KEL pun tidak terganggu. Pepatah “ibarat mengambil rambut dalam tepung” berlaku di sini.

* Penulis adalah pengurus KNPI Aceh Singkil.

Sumber : Serambinews.com

Selasa, 14 Maret 2017

AKTIFIS LUPA SEJARAH ; "BESAR KEPALA"

Sabtu, 04 Maret 2017

Cerpen PRAHARA DI JEMBATAN PELANGI Oleh : Sadri Ondang Jaya



Di kampungku, ada sebuah jembatan berkonstruksi kayu. Oleh para pemuda, jembatan itu dilumuri cat warna-warni. Sehingga menyerupai warna pelangi.
Karena menyerupai pelangi, warga menamai jembatan itu dengan sebutan Jembatan Pelangi.
Nama itu pun, telah kesehor ke kampung-kampung tetangga. Bahkan, telah mendunia.  Masuk dalam road map Google.
***
Setiap hari, apalagi menjelang rembang petang. Jembatan sepanjang 45 meter, banyak dikunjungi para kaum abege.
Tak jarang, kalangan brondong tua pun acap datang ke sini dengan berbagai dalih.
Ketika berada di jembatan, ada-ada saja tingkah mereka. Ada yang bershelfie ria mengggunakan camera hp smart phone dengan membidikan vokus cameranya ke berbagai objek.
Termasuk objek ‘makhluk hidup’ sang abege-abege yang baru mekar. Mereka berpose dengan berbagai gaya.
Tak jarang menampilkan gestur dan mimik tubuh dengan lingkaran senyum yang yahud nan aduhai.
Ada pula yang menampakkan aura wajah  yang mengudang sejuta pesona. Pokoknya,  gaya mereka bak peragawati yang telah go publik.
Ada pula bergaya foto model yang berlenggak-lenggok, memeragakan karya seorang desainer di atas catwalk.
Selain itu, di jembatan tadi, pengunjung tak sedikit yang hanya duduk-duduk saja. Sekadar ngaso, melepas penat, dan lelah.
Tak mengherankan, ada juga pengunjung Jembatan Pelangi, yang menjuntai-juntaikan sambil mencecahkan kakinya ke air yang mengalir. Sehingga air bergemericik membentuk pusaran kiambang bertaut-tautan.
***
Bila rembang petang semakin temaram. Angin sepoi membelai gigilnya senja, Jembatan Pelangi seolah-olah mengajak pengunjung untuk berlama-lama “bercumbu”. Dengan titik klimak, lembayung senja jatuh kepangkuan.
Pokoknya, sejak dibangunnya Jembatan Pelangi, telah menjadi destinasi wisata murah meriah di kampungku. Nama kampung pun terviralisasi. Terkenal ke seantero negeri.
Karena setiap kali pengunjung datang dan bershelfie, hasil shelfie mereka  di upload  ke facebook, instagram, twitter atau bloger.
***
Beberapa hari lalu, Jembatan Pelangi, menjadi trending topik. Bukan karena jembatan telah ditata semakin apik, indah, dan menarik atau pungunjungnya semakin membludak
 Melainkan, ada warga yang memprovokasi keberadaan Jembatan Pelangi. Akibatnya,  menimbulkan “prahara” yang memecah belah warga.
Warga terpecah menjadi dua kubu. Ada yang pro keberadaan Jembatan Pelangi. Ada pula yang kontra.
Munculnya prahara, dipicuh sikap sosok pria setengah baya yang tak setuju dengan keberadaan Jembatan Pelangi. Tragisnya, ia ingin mengganti cat jembatan dengan warna hitam.
Alasannya, jembatan yang dicat menyerupai pelangi, telah mengundang mudharat. Orang berbondong-bondong berkunjung ke kampungku, telah membawa sial.
Jika ini berlangsung lama, pengunjung tidak saja mendatangi jembatan. Melainkan, akan  terus merangsek ke bibir pantai yang berjarak terpaut 800 meter saja dari jembatan.
Tak jauh dari bibir pantai,  ada pula terdapat arena yang suci dan sakral, yakni makam Syekh Aulia DiTampat.
Makam Syekh Aulia DiTampat yang panjangnya 9 meter dan dianggap warga keramat, bisa-bisa dikotori dengan maksiat ala dajjal.
Sedangkan warga yang pro terhadap cat jembatan warna-warni, tetap menginginkan dan berharap supaya pengunjung terus berdatangan.
Kampung menjadi ramai, jika ramai, aktifitas ekonomi warga akan berdenyut kencang. Warga pun menjadi makmur.
Tinggal lagi, bagaimana menyiasati agar orang yang berkunjung tak berbuat maksiat dan apa yang dikuatirkan tak terjadi. Tentu ini, perlu regulasi atau paso-paso.
***
Sikap pro dan kotra terhadap Jembatan Pelangi, terus bergelinding di tengah-tengah warga. Ibarat bola panas. Jika tak cermat menyiasatinya, ia akan membakar negeri.
Kepala desa, sebagai pimpinan warga, mulai mencium riak-riak sosial ini. Ia tak tinggal diam. Lalu, mengumpulkan dan mengajak tokoh-tokoh dan warga yang pro dan kontra untuk urun rembuk membahas persoalan ini.
***
Saat  sedang kumpul-kumpul di balai desa yang tak jauh dari Jembatan Pelangi, tiba-tiba segerombolan warga mendatangi jembatan dan berteriak-teriak:
 “Ganti cat jembatan. Ubah dengan dengan warna hitam. Pengunjung tak boleh datang lagi ke sini,” teriak Wasila seorang warga seakan baru mendapat wangsit dari ruh leluhurnya.
Massa yang jumlahnya tak seberapa itu, terus merangsek menuju jembatan. Ada juga di antara mereka yang  mulai mengecat papan jembatan dengan warna hitam.
Mendengar dan melihat teriakan dan tingkah laku kubu yang kontra, kubu yang pro terutama para pemuda, datang menghadang dan melarang pengecatan.
Jembatan menjadi ramai. Antara warga yang kontra dan pro berteriak-teriak dan berhadap-hadapan. Saling membelalakan mata. Tolak-tolakan pun terjadi. Suasana menjadi panas dan tegang. Adu jotos pun tak terelakkan.
Kepala desa, tokoh-tokoh masyarakat, dan warga lain yang melihat dan mendengar praha itu, tergopo-gopo menaiki jembatan. Ingin melerai perkelahian.
Lalu jembatan dinaiki sehingga kelebihan tonase. Membuat tiang-tiang jembatan melentur, berderak, dan sempoyongan.
“Awas jembatan roboh,” teriakku dari kejauhan. Belum sempat lima minit aku ngomong. Jembatan Pelangi pun ambruk, roboh.
Warga, tokoh-tokoh masyarakat termasuk kepala desa, tercebur ke sungai. Untunglah mereka terampil berenang sehingga tak ada yang tenggelam. Namun, pakaian mereka basah kuyub.
***
Esok harinya, heboh. Jembatan Pelangi telah roboh. Media massa termasuk sosmed, memberitakan dari berbagai sudut pandang. Tak lupa, melampirkan foto-foto.
Sedangkan aku, sebagai wartawan media online, menulis sisi lain. Yaitu, dari hasil wawancara dengan tukang jembatan.
Tukang mengatakan, jembatan ambruk, bukan karena kelebihan tonase. Tetapi, karena tiang-tiang penyanggah jembatan belum dipasang baut. Hanya baru dililit dengan kawat saja.
Sementara Wasila sang provokator, saat ditanya mengapa ia menggerakkan massa. Ia pun menjawab enteng, “Ini bukan sensasi. Ini adalah cara saya mengungkap supaya pembangunan jembatan ini tak asal-asalan.
***
Alamak. Entengnya jawaban dan alasan Wasila sang provokator. Padahal, prahara telah terjadi. Warga terpecah. Dendam terenda. Jembatan Pelangi telah roboh. Warga yang ke ladang dan berziarah terpaksa mengurut dada. Apakah jembatan kembali dibangun atau akan kembali naik perahu seperti sedia kala? Hanya alam nyata yang menjawabnya.[]

Jumat, 24 Februari 2017

KISAH SYEKH JALALUDDIN PADANG GANTING MELAWAN DUKUN SAKTI Oleh : Sadri Ondang Jaya

Di Aceh Singkil, ada sebuah pemukiman. Namanya, Gosong Telaga. Di pemukiman Gosong Telaga itu, terdapat kampung nelayan kembar tiga. Kerennya village twins three. Desa kembar tersebut, yaitu : Gosong Telaga Utara, Gosong Telaga Selatan, dan Gosong Telaga Timur. 

Tiga desa ini, sangat unik. Keunikan ini terlihat dari panorama alamnya yang rancak nan eksotis. Daratan kampungnya, dikelilingi sungai berbentuk angkare yang sebelah Baratnya ada Muara Anak Laut. Sedangkan sebelah Timurnya ada Muara Saragian. Penataan perkampungan, letak, dan kontruksi rumah-rumahnya pun teratur, bersih, nyaman, apik dan menarik.

Tiga ratus tahun lalu, di pemukiman itu pernah tinggal seorang ulama besar yang bernama Syekh Jalaluddin. Karena beliau berasal dari Padang Ganting, Sumatera Barat, masyarakat menambah lakap namanya menjadi Syekh Jalaluddin Padang Ganting.

Jalaluddin datang ke Gosong Telaga, semulanya sebagai pedagang berbagai komoditi antar pulau. Dalam persinggahannya beberapa kali di Gosong Telaga, sang guru menyaksikan perkembangan kehidupan keagamaan yang sangat memprihatinkan dan ganjil alias rada aneh.

Masyarakat Gosong Telaga, ketika itu, bukan saja malas melaksanakan ajaran Islam. Namun, adat-istiadat, budaya serta hidup dan kehidupan mereka sangat jauh melenceng dari ajaran Islam yang kaffah. Mereka percaya pada hal-hal yang syirik, takhyul, bid’ah, dan khurafat.

Untuk meluruskan hal tersebut, terpaksa Syekh Jalaluddin Padang Ganting menetap dan berdomisili di Gosong Telaga. Ia membangun rumah dan membuka pengajian di sebuah surau yang didirikannya sekaligus beliau menjadi guru dalam pengajian itu.

Selain mengajarkan ilmu syariat kepada murid-muridnya. Syekh Jalaluddin juga, mengajar ilmu aqidah, fikih, dan ilmu keislaman lainnya termasuk tarekat.

Dalam usaha mengembangkan ajaran Islam di Gosong Telaga, Syekh Jalaluddin Padang Ganting, sempat berdebat dengan dukun-dukun yang menganut aliran ilmu hitam.

Sebab, sebelum Syekh Jalaluddin datang ke Gosong Telaga, ilmu pendukunan aliran ilmu hitam (black magic) berkembang pesat dan merajalela di Gosong Telaga. Ada sijunde atau burung tuju, tuju galang-galang, gadam, gayung, santet, tinggam, dan berbagai macam penyakit ilmu sihir lainnya.

***
Ketika itu, di Gosong Telaga ada sosok dukun yang maha sakti. Kemampuan ilmu anta berantahnya luar biasa. Ia dukun yang melegenda. Raja ilmu gaib, biang semua keganjilan dan muara semua ilmu aneh.
Konon, salah satu “kelebihan” sang dukun ini, apabila ia pergi melaut, dengan kesaktian ilmunya, sang dukun bisa memanggil kawanan ikan supaya merapat ke perahunya. Kalau kawanan ikan telah menghampiri perahu dan berjibun datang, membuat si dukun yang juga pawang jaring ini, gembira alang kepalang.

Saat itulah sang dukun memerintahkan anak buahnya segera menebarkan jaring, setelah beberapa lama jaring mengendap di laut, jaring dicabut. Benar saja, hampir setiap mata jaring dipenuhi ikan atau jaring sudah temu ruang.

Lantas, mereka membibil (melepaskan ikan dari jaring). Setelah itu menebar jaring lagi, ribuan ikan pun nyangkut di jaring. Setelah puas dan palka hingga ke ceruk biduk sarat dengan ikan.

Nelayan yang dikumandoi sang dukun ini berangkat pulang, kembali ke perkampungan, sedangkan kawanan ikan di permukaan air laut masih berlaso-laso (laksa) mengitari biduk.

Yang namanya dukun, pasti memiliki sifat syirik. Sifat syirik alias dengki nan tercelah itu rupanya merasuki hati sang dukun. Lantas sang dukung menjuntaikan kakinya ke permukaan laut sembari mulutnya komat-kamit membaca mantera.

Anehnya, setelah sang dukun membaca mantera kawanan ikan yang tadinya tampak berlaksa-laksa di permukaan laut, hilang seketika, entah pergi ke mana. Seperti lenyap ditelan pusaran air laut.

Nelayan lain yang sudah terlambat atau tidak bersamaan menebar jaring dengan sang dukun, menjadi kecewa. Jaringnya, tidak seekor pun ditempuh ikan.

Keesokan harinya, begitu pulang melaut, yang berhasil menangkap ikan dalam jumlah banyak hanya biduk jaring yang dipawangi sang dukun saja. Sementara perahu jaring lain, kosong melompong.

Perkara ini, sering menimbulkan perselisihan yang tajam antar pawang. Bahkan, menjurus pada perkelahian dan dendam kusumat. Kalau seperti ini yang terjadi, sudah barang tentu berbagai ilmu mistik pun bergetayangan di jagat pertempuran antar dukun.

“Keinginan tertolak; Dukun pun bertindak.” Kalimat ini mewujud di pusaran asmosfir Kampung Gosong Telaga. Sehingga tak pelak lagi, penampak-penampakan dan penyakit-penyakit ‘aneh’ yang tidak bisa diterawang ilmu medis, bermunculan. Baik pada benda maupun pemilik benda itu.

***
Seorang pawang lain, dengan anggotanya pergi melaut. Malang bagi mereka, di tengah laut lepas, tiba-tiba ombak mendadak murkah dan langit mulai reduk. Perahu mereka oleng dan meliuk-liuk diterpa ombak dan badai dasyat.

Semua awak biduk menjadi ngerih ketakutan. Sementara itu, gumpalan halimun dan awan gelap terus bergerak menuju perahu dengan kilatan-kilatan petir yang membahana sambung menyambung dan tingkah-meningkah dengan suara guruh. Tanpa henti.

Dalam suasana seperti itu, tak ada pilihan bagi mereka kecuali menyonsong awan kelam itu untuk pulang atau mencari pulau, tempat berlindung. Hati mereka ketika itu, remuk redam tak berdaya. Seumpama diombang-ambingkan oleh tangan raksasa dan tangan itu seperti mengumpan perahu pada badai.

Dalam waktu singkat badai besar pecah dan angin puting beliung menggoyangkan perahu, membahana, tanpa ampun. Hujan sangat lebat dan suasana menjadi gelap gulita. Sambaran-sambaran kilat yang sangat dekat dengan perahu menimbulkan pemandangan yang menciutkan nyali.

Apalagi di laut lepas, sangat menyeramkan. Begitu perahu tenggelam, ombak terus menelan. Kalau sudah dalam perut laut, sudah barang tentu hati mulai ketakutan. Apalagi banyak hiu, lumba-lumba, dan ikan-ikan predator lainnya berkeliaran. Haup…! tubuh pun akan dicabik-cabiknya. Kemudian mulut ikan besar itu menelan kepingan-kepingan tubuh. Sungguh mengerihkan.

Semua anak buah jaring ketakutan. Ada yang teringat keluarga. Pokoknya, mereka betul-betul sadar, nyawa sudah berada di tangan malaikat maut.

Dengan suasana hati yang sangat ciut, tiba-tiba datang gelora angin puting beliung meliuk-liuk seperti rambut panjang yang digerai seorang dara jelita. Begitu angin yang berputar, meliuk-liuk menghujam mendekati perahu. Eeeat… sang dukun seenaknya dan dengan enteng memotong dengan tangannya angin yang menyerupai rambut tadi. Angin puting beliung pun putus menghilang, lenyap.

Kemudian, dengan enteng sang pawang berkata, “Ayo dayung perahu, sembari mendayung pejamkan mata. Nanti setelah saya suruh buka mata, baru dibuka.” Anak jaring pun mengikuti arahan pawangnya. Mendayung perahu sembari memejamkan mata. Tidak berapa lama mata terpejam, paling sepersekian menit, sang pawang menyuruh buka mata kembali.

Begitu pejaman mata terbuka. Aneh sungguh aneh, perahu sudah berada ke balik pulau yang aman dari badai. Padahal sekitar laut, awan hitam masih menebal, angin kencang masih membahana, belum ada tanda-tanda akan surut. Karena sudah berada di dekat pulau, awak jaring tidak merasa kuatir lagi dengan keadaan. Mereka bisa berlabuh, menunggu badai redah.

Begitulah, masyarakat sangat terpukau dengan ilmu pendukunan. Antara ilmu hitam dengan ilmu putih di Gosong Telaga, ketika itu, susah untuk dibedakan. Telah bercampur aduk.

Bahkan masyarakat beranggapan seolah-olah dukun yang menentukan segala hidup dan kehidupan manusia. Termasuk mematikan.

Namun, dengan ketekunan dan dakwah yang dilakukan dengan gencar oleh Abuya Syekh Jalaluddin Padang Ganting. Dibarengi pula dengan sifat-sifat mulia yang ditunjukkannya. Dukun-dukun tadi, takluk dan bertobat serta meninggalkan ilmu hitam.

Kemudian mereka menuntut ilmu keislaman pada Syekh Jalaluddin.Tuan Syekh mengajarkan ilmu keislaman pada masyarakat Gosong Telaga siang dan malam. Selama lebih kurang 40 tahun.

Untuk meyakinkan murid-murid terhadapnya, kebenaran Islam, Syekh Jalaluddin menyampaikan petuah.
“Kalau hidup mau selamat, hiduplah dengan dan dari ajaran al-Quran, al-Hadis, dan pendapat-pendapat ulama. Jangan mendekati syirik, takhyul dan pendukunan. Karena itu sama seperti kita menyembah berhala. Menyembah berhala, adalah perbuatan sesat. Kalau kita telah sesat iblis akan terus mengoda sampai kita terperosok ke dalam pelukannya. Hal ini membuat segala amal baik yang telah dikerjakan lenyap dan dosa kita pun akan menggunung. Dosa seperti ini, jelas tidak akan pernah diampuni Allah.”

Untuk meyakinkanan murid-muridnya yang sudah terlanjur mempercayai ilmu pedukunan aliran hitam. Abuya memberikan wasiat gaib. Yaitu, bila beliau wafat, murid-muridnya dipersilahkan menggali kuburannya.

“Kalian akan menyaksikan, ungkapan terbang burung, tinggal sangkarnya,” kata Syekh Jalaluddin.
Tujuh hari tuan Syekh wafat, tepatnya 2 Safar 1324 H, murid-muridnya membuktikan ucapan “bersayap” sang guru. Murid-muridnya menggali makam.

Benar saja, ternyata jasad guru tak ada lagi dalam liang lahat, raib entah kemana. Yang tinggal hanya papan keranda dan kain kafan saja.

Melihat fakta ini, murid-muridnya terperangah dan semakin takjub pada sang guru. Lantas, murid-muridnya tadi bertobat nasuha dan mengeramatkan makam Syekh Jalaluddin Padang Ganting yang secara jahir terletak di Gosong Telaga.

Karena itu, banyak orang mengakui bahwa yang menginsyafkan dan menobatkan masyarakat Gosong Telaga kepada ajaran Islam yang benar dan kaffah, adalah Syekh Jalaluddin.

Syekh Jalaluddin pulalah yang menggubah tradisi-tradisi, adat-istiadat dan peradaban di Gosong Telaga menjadi sesuatu yang islami. Sehingga semangat keagamaan di Gosong Telaga menjadi bergairah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah.[]